Modul

Miftahuddin, Draft Buku Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam (tidak untuk dikutip)

BAB I

PENDAHULUAN

 

Kurikulum merupakan bagian penting dari aktivitas pendidikan dari zaman ke zaman. Kurikulum dalam dunia pendidikan dapat diibaratkan sebagai jantung, yang akan menentukan denyut nadi kehidupan pendidikan. Dapat dinyatakan bahwa jika kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan tersusun secara baik, maka hasil pendidikan di lembaga tersebut juga akan menjadi baik, namun sebaliknya jika kurikulumnya tidak tersusun secara baik, maka dapat diramalkan bahwa hasil pendidikan dari lembaga tersebut akan tidak baik pula.

Dalam dataran realitas, sering dijumpai pelaksanaan pendidikan yang seolah-olah tanpa kurikulum tertentu yang direncanakan secara sistematis. Namun jika dicermati secara lebih mendalam, pastilah setiap aktivitas pendidikan memiliki muatan kurikulum tertentu. Tentu yang dimaksud di sini adalah kurikulum dalam makna umum. Sebagai contoh, sebuah pesantren salaf kelihatannya tidak menyusun kurikulum secara teratur, namun sebenarnya kalau ditilik mendalam pastilah pesantren tersebut memiliki karakteristik bahkan keunggulan keilmuan tertentu yang ditanamkan oleh kyai kepada para santrinya, termasuk muatan-muatan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang diajarkan oleh seorang kyai melalui keteladanan.

Kurikulum dalam makna formal sebagaimana yang dijumpai di lembaga-lembaga pendidikan moderen biasanya lebih teratur dan sistematis, baik dalam penyusunan, pelaksanaan maupun evaluasinya. Ini dikarenakan tuntutan formal yang diberikan oleh masyarakat pengguna lulusan lembaga-lembaga pendidikan formal tersebut. Masyarakat pengguna pendidikan formal berharap agar ada standarisasi hasil pendidikan bagi lulusan. Menindaklanjuti harapan ini lalu lembaga pendidikan formal harus menyusun kurikulumnya secara sistematis dan terukur.

Berangkat dari kebutuhan formal itulah mula-mula telaah mendalam tentang kurikulum mendapat perhatian serius dari para pemikir pendidikan, sampai pada zaman moderen sekarang ini. Berbagai teori tentang kurikulum muncul dan berkembang seiring dengan perkembangan tuntutan masyarakat atas peran pendidikan. Perubahan dan aneka teori itu sebenarnya sebagai bahagian tak terpisahkan dari berubahnya kurikulum dari zaman ke zaman sebagai buah dari perubahan masyarakat.

Dalam tradisi pendidikan umum pembahasan mengenai kurikulum secara panjang lebar dapat dijumpai secara luas, baik yang dikembangkan oleh para pakar kurikulum di negara-negara maju maupun berkembang. Banyak pula dijumpai teoritisi kurikulum umum yang secara spesifik mengupas kajian-kajian teoritik tentang kurikulum. Begitu pun banyak dijumpai fakultas-fakultas di berbagai universitas mengembangkan kajian teoritis maupun praktis tentang kurikulum. Para mahasiswa di fakultas-fakultas pendidikan juga diwajibkan mempelajari teori-teori kurikulum dari berbagai literatur kurikulum umum.

Dampak dari hal di atas, kajian-kajian mengenai kurikulum umum menjadi semakin berkembang pesat. Hasil-hasil penelitian tentang kurikulum terus bertambah, sehingga mudah dijumpai kajian ilmiah atau buku-buku tentang teori pengembangan kurikulum.

Pada sisi lain, pengembangan teori kurikulum pendidikan Islam relatif lebih lambat perkembangannya. Hal ini setidaknya dilatari oleh dua faktor: (1) karakteristik pendidikan Islam itu sendiri; dan (2) tradisi pengembangan kurikulum dalam makna manhaj (pendekatan) dan thariqah (metode) kurang mendapat perhatian khusus dari para intelektual muslim. Dari sisi faktor pertama, karakteristik pendidikan Islam lebih menekankan pada dimensi aqidah, ibadah dan akhlak. Sehingga yang lebih ditekankan adalah kurikulum dalam makna al-madah (materi) atau al-‘ilm (ilmu), misalnya ilmu aqidah, ilmu fiqh, ilmu tasawuf, dan lain-lain. Sementara faktor kedua, para intelektual muslim tidak membincang secara spesifik metode mengajar.

Dalam tradisi intelektual Islam (terutama klasik), kitab yang mengkaji secara khusus dan mendetail mengenai kurikulum dalam makna thariqah, hampir-hampir sulit dijumpai. Adalah Imam al-Zarnuziy, yang secara khusus dan detail mengurai bagaimana metode belajar bagi para pelajar, sebagaimana ditulis dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim: Thariq al-Ta’allum. Sementara intelektual lain pada umumnya hanya mengulas metode secara sepintas atau menjadi bahagian dari karyanya, misalnya: Ibn Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlak, dan Imam al-Ghazaliy dalam Ayyuha al-Walad.

Dalam perkembangan tradisi keilmuan selanjutnya karya-karya yang secara spesifik membincang pengembangan kurikulum juga kurang berkembang. Hal ini karena para pendidik muslim lebih familiar menggunakan teori-teori kurikulum umum yang ada, daripada menggali dari khasanah intelektual Islam sendiri. Hal ini mudah dipahami karena disamping sejak belajar di universitas pada umumnya para mahasiswa sebagai calon pendidik muslim telah diorientasikan untuk menguasai teori-teori kurikulum umum, namun juga karena keterbatasan literatur kurikulum pendidikan Islam.

Berangkat dari latar belakang itulah, maka pembahasan tentang kurikulum pendidikan Islam, menjadi urgen untuk dilakukan guna menambah kekayaan khazanah keilmuan pendidikan Islam. Sungguhpun begitu, untuk kepentingan komparasi, uraian pada bagian-bagian awal pembahasan buku ini akan dimulai dengan dimensi teoritis kurikulum umum. Sedangkan pada bagian-bagian akhir diurai kurikulum pendidikan Islam.

Perlu diberikan kerangka kerja atau pembatasan dan sekaligus penjelasan bahwa yang dimaksud kurikulum dalam pembahasan ini adalah segala sesuatu yang diberikan oleh institusi pendidikan baik formal maupun non formal, baik yang berkaitan dengan tujuan (maqasid), isi atau materi (madah), pendekatan (manhaj), metode (thariqah), serta evaluasi (hisab). Pendidikan Islam adalah sistem yang diselenggarakan untuk menanamkan nilai-nilai Islam kepada para pelajar, baik kelembagaan, mata pelajaran, maupun penyelenggaraanya. Dengan kata lain, baik terminologi kurikulum maupun pendidikan Islam, diberi cakupan makna yang luas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *