Saleh Individual dan Saleh Sosial

Alkisah, ada seorang jamaah pengajian bertanya kepada ustadz bagaimana hukumnya seseorang yang sedang berpuasa kemudian ia melakukan ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba), apakah puasanya batal. Dengan argumen hadits ustadz menjawab bahwa perbuatan – perbuatan :(1) kidzb; (2) ghibah wa al-namimah; (3) nadlarun bi al-shahwah; dan (4) yumna la bihaq, termasuk kategori yang menyebabkan puasa kita pahalanya tidak diterima Allah. Mendengar jawaban ustadz tersebut jamaah bertanya polos, “puasanya batal ndak pak?”. Lantas ustadz tersebut menjawab “tidak”.
Ada hal menarik dalam kisah jamaah pengajian tersebut, di mana ada perdebatan antara apakah puasa itu semata – mata legal formal fiqhiyah, atau substansial syariah. Jika puasa hanya semata – mata dipandang sebagai persoalan formal fiqh, maka yang mengemuka adalah jawaban bahwa orang yang melakukan ghibah dan namimah puasanya tidak batal. Tetapi jika puasa dipahami sebagai sesuatu yang substansial syariat, maka jawabannya tentu batal, karena ghibah dan namimah telah melanggar makna substansial dari puasa itu sendiri.
Jika persoalan ini durunut lebih lanjut sebenarnya perbedaannya ada pada soal cara pandang atau metodologi dalam memahami Islam. Cara pandang pertama melihat bahwa mengamalkan ajaran Islam itu harus seusai persis dengan teks Alqur’an maupun Hadits. Cara pandang ini kemudian menimbulkan implikasi pada pemaknaan formal dari ajaran Islam itu sendiri. Akibatnya fiqh menjadi ‘kering’ dari spirit ajaran itu sendiri. Jika disederhanakan maka cara pandang model ini akan melahirkan individu muslim yang memiliki kesalehan individual tinggi di satu pihak sedangkan di pihak lain kesalehan sosialnya menjadi berkurang.
Cara pandang kedua melihat bahwa pengamalan ajaran Islam itu harus dilakukan dengan cara memahami semangat atau elan dasar dari ajaran itu sendiri. Jadi bukan formalnya yang dipentingkan tetapi spiritnya, substansi ajarannya. Implikasi dari cara pandang ini biasanya akan melahirkan tipe seorang muslim yang memiliki kesalehan sosial yang tinggi, karena ia mencoba mengelaborasi ajaran dari sisi semangat kemanusiaannya.

Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial
Dalam Alquran banyak dijumpai terminologi kesalehan baik dengan kata shalih, khair, al-birr, hasan, maupun beberapa turunan katanya. Kata shalih secara umum diartikan sebagai kebajikan (rightious), baik (good). Kata shalih biasanya didahului dengan kata iman, misalnya QS. al-Ashr: 2. Ini memberikan makna bahwa shalih merupakan manifestasi dari iman. Iman menjadi tidak bermakna tanpa kesalehan, sebaliknya kesalehan tanpa iman menjadi perbuatan yang tanpa landasan teologis bahkan tidak bisa disebut kesalehan. Perbuatan shalih harus dilandasi iman agar dapat disebut kesalehan.
Istilah khair banyak dipakai dalam Alquran untuk mengungkapkan kebaikan, rahmat, keimanan dan kemanfaatan. Misalnya, kuntum khaira ummatin…. (Q.S. Ali Imron:110) Dalam kata khair terdapat makna kebaikan mahiyah (kebaikan yang berasal dari Tuhan) dan kebaikan insaniyah (kebaikan yang berasal dari manusia). Jadi dari pemahaman kata khair ini terdapat makna bahwa suatu perbuatan baik itu harus sesuai dengan sudut pandang ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan.
Kata al-birr dan turunannya banyak dipakai dalam Alquran untuk mengungkapkan perilaku kebaikan yang berdimensi luas bagi masyarakat. Contoh yang paling populer dari turunan kata ini adalah mabrur. Maka disebut haji mabrur kalau perilaku sosialnya lebih baik setelah melakukan ibadah haji. Jadi makna al-birr lebih bernuansa habl min al-nas, emphasis to justice and social life.
Kata hasan diartikan sebagai kebaikan, kebahagiaan baik yang berdimensi duniawi maupun ukhrowi. Doa yang diajarkan dalam Alquran rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah, menjadi contoh bahwa Alquran mengajarkan kepada manusia untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat sekaligus. Ini mengandung makna secara vertikal harus berbuat baik, secara horizontal pun demikian harus berbuat baik.
Dari beberapa terminologi yang dipakai Alqur’an tersebut di atas, makna substansi dari kesalehan yang diajarkan dalam Islam adalah kesalehan individual maupun sosial, yang muaranya berujung pada kata taqwa. Jadi taqwa dalam konteks ini bermakna akumulasi dari kesalehan ritual yang bersifat vertikal ketuhanan dan kesalehan horisontal kemanusiaan. Antara keduanya tidak bisa dipisahkan, walaupun mungkin dapat digolongkan. Misalnya secara sederhana dapat digolongkan: syahadat, shalat, dapat diidentikkan dengan kesalehan individual-vertikal, sedangkan infaq, shadaqah, menolong sesama, membantu fakir miskin dan kaum dhu’afa dapat disebut sebagai manifestasi dari kesalehan sosial-horisontal.

Menyeimbangkan Kesalehan
Dalam dataran empirik ada beberapa orang yang menganggap penting sekali kesalehan individual dan menganggap tidak penting kesalehan sosial. Ekspresi dari hal ini misalnya, ada beberapa orang yang tekun sekali beribadah ritual tetapi tidak peduli dengan persoalan – persoalan sosial di sekitarnya. Sebaliknya ada orang yang menganggap penting sekali kesalehan sosial, sehingga tidak terlalu memperhatikan kesalehan individualnya.
Menurut hemat kami, setiap orang dapat mengembangkan diri untuk membentuk kesalehan individual tanpa meninggalkan kesalehan sosial atau sebaliknya. Dengan kata lain untuk menjadi muslim yang komprehensif, perlu menyeimbangkan dua bentuk kesalehan sekaligus. Jika hanya salah satu yang diyakini dan menafikan yang lainnya maka menjadi ganjil dan tidak bermakna. Artinya jika hanya saleh individual saja, tanpa memperhatikan kesalehan sosial, maka akan dikategorikan sebagai orang yang mendustai agama (QS. Al-Ma’un:1-7). Sebaliknya jika hanya saleh sosial saja, menganggap tidak penting kesalehan individual, maka kesalehan tersebut akan mengawang, tidak ada ikatan (chenthelan-jawa) dengan identitas keislamannya.
Dilihat dari basis epistemologinya, menarik apa yang dinyatakan oleh Fazlurrahman, bahwa inti ajaran Islam adalah tauhid. Tauhid harus mewujud dalam dua hal sekaligus: pertama, monotheisme dan kedua, keadilan sosial. Artinya bahwa orang yang tauhidnya tinggi secara otomatis mempunyai dua kesadaran sekaligus yakni ketuhanan atau monotheisme dan kemanusiaan atau keadilan sosial. Jadi antara kesalehan individual dan sosial merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya merupakan wujud dan manifestasi dari ketauhidan seseorang.
Pertanyaannya, bagaimana jika antara tuntutan kesalehan individual dan kesalehan sosial “bertabrakan”? Menurut Jalaluddin Rahmat, Islam lebih banyak memperhatikan aspek sosial daripada individual:
• Bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan muamalah, maka dapat diperpendek atau ditangguhkan, contoh sholat jama’ dan qashar.
• Ibadah secara kolektif diganjar lebih besar daripada sendirian, contoh shalat jamaah.
• Ibadah yang tidak dapat dilaksanakan karena tidak mampu atau batal, maka gantinya adalah sedekah, contoh orang tua renta yang tidak mampu berpuasa, maka diganti dengan membayar fidyah.
• Ibadah ritual dapat diganti jika ada faktor sosial khusus yang memerlukannya, contoh: jika akan wudlu, ada anjing yang kehausan, maka airnya harus dikasihkan anjing tersebut, lalu wudlu diganti tayamum.

Salatiga, 1 Mei 2015

Berbakti Kepada Orang Tua Menurut Sunnah Rasul

Berbakti kepada orang tua hukumnya wajib berdasar:
– Hukum Syari’at : antara lain QS. Al-Ahqaaf: 15; QS. Luqmaan: 14; QS. An Nisa’ : 36; QS. Al Isra’: 23 dan hadith-hadith shahih antara lain: HR. Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, HR. Bukhari dari Riwayat Abdullah bin Umar, dll.
– Hukum Kemanusiaan : secara naluriah manusia memiliki tabiat untuk berbakti kepada orang tuanya karena orang tua telah mengasuh, mendidik dan membesarkan anaknya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang, melebihi sayangnya pada diri sendiri.
Rasul mengajarkan, berbakti kepada orang tua dapat dilakukan baik pada saat orang tua masih hidup maupun orang tua sudah meninggal.
Birrul Walidain saat orang tua masih hidup antara lain dengan:
– Tidak menentang dan menyakiti hatinya seperti berkata-kata yang tidak sopan, semisal: uff. (QS.al-Isra’:23)
– Berterima kasih kepada orang tua atas jerih payahnya mendidik dan membesarkan (QS. Luqmaan: 14)
– Mendoakan orang tua (QS. Ibrahim:14)
– Bershilaturrahmi pada keluarga, handai tolan, maupun kolega orang tua (HR. Anas bin Malik)
– Meneladani tradisi-tradisi amal sholih orang tua.
– Bersedekah kepada orang tua, terutama pada saat orang tua sangat membutuhkan, dll.
Birrul Walidain saat orang tua sudah meninggal:
– Mendoakan (terutama) setiap habis shalat maktubah. (HR. Muslim; HR. Turmudzi)
– Membacakan al-Qur’an sampai khatam, setidak-tidaknya (yang terutama) Surat Yasin (HR. Baihaqi, HR. Abu Dawud, Nasai), yang dalam masyarakat menjadi Khataman dan Yasinan.
– Mengeluarkan sedekah kebaikan amal/pahalanya diperuntukkan bagi yang sudah meninggal (HR. Muslim), yang dikenal dengan Slametan.
– Membacakan surat al-Fatihah, awal Surat al-Baqarah, ayat kursi, akhir surat al-Baqarah, bacaan la ilaaha illallah, subhanallah, istighfar, dan shalawat. (HR. Thobroniy, dari riwayat Abdurrahman al-‘Allai), bacaan-bacaan ini oleh ulama disebut Tahlilan. Agar ajeg dan mudah diingat maka dibuat tradisi Telung Dino, Pitung Dino, Matang Puluh, Nyatus, Mendhak Pisan, Pindho, Haul, dll.agar selalu ingat pada orang tua yang telah meninggal sekaligus sarana ingat mati bagi yang masih hidup (Dzikrul Maut)
– Melakukan ibadah hajji dengan niat untuk orang tua yang sudah meninggal (Diriwayatkan Ibnu Umar HR. Muttaqun ‘Alaih)
– Meng-qodlo shalat dan puasa dengan niat untuk orang tua yang sudah meninggal. (Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA)
– Menziarahi makamnya (HR. Muslim), jika mungkin tiap malam jum’ah atau kamis sore (HR. Ibnu ‘Adi dari Abu Bakar RA), jika tidak memungkinkan minimal setahun dua kali yakni menjelang Ramadhan atau nyadran dan akhir ramadhan atau nyekar.
– Melanjutkan tradisi-tradisi amal shalih orang tua.
– Melanjutkan tradisi silaturrahmi dengan keluarga dan sahabat orang tua, dll.

Puasa Membentuk Karakter

Bulan Ramadhan telah hadir kembali tahun ini (1433 H). Setidaknya ada empat tipe muslim menyambut hadirnya Ramadhan setiap tahun. Pertama, suka cita dan gembira menyambut hadirnya Ramadhan, karena ia merasakan kenikmatan beribadah di dalamnya. Kedua, mereka yang suka cita dan gembira menyambut hadirnya bulan Ramadhan, karena diuntungkan secara materi. Ketiga, merasa berat dan terbebani atas hadirnya Ramadhan. Keempat, kalangan yang biasa-biasa saja dalam menapaki Ramadhan.
Jika seseorang berusia 40 tahun, maka setidak-tidaknya telah melaksanakan puasa 27 bulan. Asumsinya adalah semenjak aqil baligh ia sudah puasa penuh. Pertanyaannya adalah: (1) apakah puasa yang sudah dilakukan sekian lama itu telah berdampak bagi pembentukan pribadi yang baik, atau belum; dan (2) pada tataran kolektif, apakah dampak berpuasa bagi bangsa ini sudah tampak nyata?
Pertanyaan pertama membutuhkan introspeksi atau muhasabah atas individu masing-masing. Jika seseorang berpuasa sementara pada saat yang sama ia juga melakukan perbuatan-perbuatan: :(1) kidzb atau berdusta; (2) ghibah wa al-namimah atau menggunjing dan mengadu domba; (3) nadlarun bi al-shahwah atau melihat dengan hawa nafsu; dan (4) yumna la bihaq atau bersumpah palsu, maka puasanya menjadi hampa makna.
Pertanyaan kedua membutuhkan muhasabah nasional. Jika bangsa ini terus berpuasa, namun perilaku kolektifnya masih belum menunjukkan karakter mulia, maka dapat dinyatakan puasanya masih belum sampai pada nilai yang sesungguhnya, yakni taqwa.
Pada tataran realitas, kita masih menjumpai moralitas individu maupun kolektif sebagai bangsa belum sesuai dengan harapan. Di sana sini masih dijumpai fenomena menurunnya karakter individu maupun bangsa. Menurut Megawangi (2009:21), indikatornya antara lain: (a) meningkatnya kekerasan di masyarakat; (b) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; (c) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan; (d) meningkatnya perilaku merusak diri; (e) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (f) menurunnya etos kerja; (g) semakin rendahnya rasa saling menghormati satu sama lain; (h) rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara; (i) membudayanya ketidakjujuran; dan (j) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.

Membangun Karakter
Membangun karakter individu dan masyarakat merupakan sebuah keharusan, karena hal itu merupakan bagian dari tugas kekhalifahan setiap muslim. Setiap muslim diperintahkan oleh agama untuk membangun karakter dengan cara ber-akhlaq al-karimah.
Tugas mulia Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan karakter mulia dilandasi rahmah atau kasih sayang. Beliau menyontohkan sendiri ajaran akhlak mulianya, dengan empat pilar: (1) shidiq; (2) amanah; (3) tabligh; dan (4) fathonah.
Karakter shidiq (benar) dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan perilaku yang sama antara perkataan dan tindakan. Sifat amanah (jujur) menjadi landasan utama gerak beliau dalam laku keseharian, sampai-sampai beliau mendapat julukan al-amin oleh suku Quraisy. Tabligh (akuntabel) merupakan karakter Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas kerasulannya. Sedangkan fathonah (cerdas) merupakan cerminan sikap kreatif dalam menjalankan tugas sebagai utusan Allah SWT.
Jika ditarik ke konsep kekinian, maka empat pilar karakter Nabi Muhammad SAW tersebut sangatlah relevan. Dalam literatur moderen karakter positif biasanya dicirikan dengan hal-hal berikut: (1) menghargai nilai normatif; (2) menumbuhkan rasa percaya diri; (3) kemandirian (4) keteguhan; dan (5) kreativitas.(Foester, 2012:2)

Ajaran Puasa
Ajaran puasa diturunkan kepada umat Nabi Muhamad SAW dan umat – umat sebelumnya supaya mereka mencapai derajat taqwa (Q.S. al-Baqarah: 183). Jika tujuan akhir dari perintah puasa adalah untuk mencapai ketaqwaan, maka tentu yang dimaksud bukan sekedar puasa untuk menahan lapar dan dahaga saja, namun juga puasa dalam arti mengendalikan hawa nafsu. Dengan kata lain, puasa yang dimaksudkan adalah mengendalikan diri dari sikap negatif, lalu masuk ke dalam sikap positif, seperti: jujur, disiplin, patuh pada aturan, etos kerja tinggi, dan solidaritas pada sesama.
1. Kejujuran
Orang puasa akan jujur pada diri sendiri bahwa ia sedang berpuasa. Tidak berani melanggar makan, minum, maupun hal lain yang membatalkan sungguhpun tidak ketahuan orang lain.
2. Disiplin
Puasa mengajari orang untuk berdisiplin saat mengakhiri sahur, memulai berbuka, serta hal-hal yang dilarang.
3. Kepatuhan
Setiap orang yang berpuasa pada hakekatnya patuh pada aturan Allah SWT. Jika ia tidak patuh tentulah ia memilih tidak berpuasa. Di dalamnya ada rasa takut melanggar aturan.
4. Etos Kerja
Puasa yang dilakukan sungguh-sungguh akan mendorong seseorang untuk menyadari bahwa kerja itu adalah ibadah. Kesadaran bahwa kerja itu merupakan ibadah akan memunculkan sikap bertanggungjawab atas setiap tindakannya dalam pekerjaan. Ia akan selalu berusaha meningkatkan profesionalismenya dalam bekerja. Ia takut kalau tidak maksimal dalam bekerja. Ia sadar bahwa ia tidak hanya sedang berurusan dengan atasannya atau pelanggannya semata, namun sedang berurusan (juga) dengan Allah SWT.
5. Solidaritas
Alur pikir sederhananya dapat dinyatakan bahwa jika seseorang disuruh menahan lapar dan dahaga sehari penuh, diharapkan akan tumbuh kesadaran dalam dirinya betapa orang yang kesulitan ekonomi, yang tiap hari lapar dan dahaga karena tidak memiliki kesempatan untuk makan yang semestinya, harus diperhatikan dan disantuni. Jika kesadaran ini muncul diharapkan bagi orang yang berpuasa tersebut akan bisa berbagi dengan orang lain terutama kaum dhuafa.

Itulah sebahagian mutiara-mutiara pendidikan karakter yang diajarkan dalam ibadah puasa. Selamat berpuasa, semoga menjadi pribadi yang berkarakter mulia, amin.

Salatiga, Ramadhan 1433 H
(Artikel ini pernah dimuat di Jawa Pos Radar Semarang Tahun 2012)

Mengembangkan Sikap Tasamuh

Iftitah
Alkisah, dalam sebuah halaqah sahabat Ibnu Abbas ditanya tentang tiga hal: (1) hari apa yang paling baik; (2) bulan apa yang paling baik; dan (3) amal apa yang paling baik. Dengan lugas Ibnu Abbas menjawab, hari yang paling baik adalah hari jumat, karena keutamaan hari itu khusus diperuntukkan bagi umat Muhammad. Bulan yang paling baik adalah bulan Ramadhan, karena pada bulan itu Alqur’an dan Lailatul Qadar diturunkan, serta ibadah sunat di bulan tersebut pahalanya disamakan dengan ibadah wajib. Adapun amal yang paling baik adalah shalat lima waktu tepat pada waktunya, karena semua amal itu tergantung shalatnya. Jawaban Ibnu Abbas tersebut disanggah oleh sahabat Ali bin Abu Thalib. Menurutnya, hari yang paling baik bukanlah hari jumat, melainkan hari di mana manusia keluar dari dunia dalam keadaan iman kepada Allah. Bulan yang paling baik bukanlah bulan Ramadhan, tetapi bulan di mana seseorang dapat melakukan taubatan nasuha di dalamnya. Sedangkan amal yang paling baik bukanlah shalat lima waktu tepat waktu, melainkan setiap amal yang diterima Allah, baik amal itu banyak maupun sedikit (Syekh Nawawi al-Bantaniy, tt: 16).
Kasus ini memberikan gambaran bahwa dalam tradisi Islam awal, perbedaan pendapat diantara para sahabat telah biasa terjadi, dan hal tersebut dapat diterima sebagai sebuah keniscayaan tanpa mengganggu sendi – sendi persaudaraan diantara mereka. Jika dirunut, sebenarnya perbedaan pendapat di kalangan sahabat tersebut bermuara pada perbedaan pendekatan yang dipakai dalam memahami sebuah persoalan. Ibnu Abbas dalam kisah di atas, lebih mengedepankan pendekatan fiqhiyyah, di mana ia menjawab pertanyaan – pertanyaan tadi dengan argumen – argumen fiqh. Secara fiqh, hari yang paling baik adalah jum’at. Begitupun bulan terbaik, tentu bulan Ramadhan, dan amal terbaik, tentulah shalat lima waktu. Sementara pada sisi lain, sahabat Ali menggunakan pendekatan tasawwuf, di mana ia lebih mementingkan dimensi sufistik dari tatanan ibadah. Maka tidak heran jika sahabat Ali menjawab hari terbaik bukanlah hari jumat, tetapi hari (apa pun) di mana hari itu seseorang meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Bulan terbaik bukanlah bulan Ramadhan, tetapi bulan di mana seseorang dapat melakukan taubatan nashuha di dalamnya. Amal terbaik adalah amal yang diterima Allah baik banyak maupun sedikit.
Akhir kisah perdebatan diantara para sahabat tersebut, semuanya menyatakan bahwa baik pendapat Ibnu Abbas maupun Ali sama-sama benar, tidak ada yang salah. Pandangan mereka berbeda karena sudut pandangnya berbeda, namun hasil pendapatnya tetap sama kebenarannya.
Pertanyaannya, mengapa sekarang sebahagian umat (Islam) tidak terbiasa dengan tradisi menghargai perbedaan pendapat, bahkan merasa alergi dengan perbedaan, dan lebih ironis lagi menjadi saling bermusuhan bahkan konflik atas nama (pemahaman) agama yang didaku (di-claim) paling benar? Pertanyaan selanjutnya, mengapa sendi – sendi tasamuh yang telah dibangun dalam tradisi Islam akhir – akhir ini mulai terkikis?

Memahami Perbedaan
Perbedaan merupakan sunnatullah yang mesti diakui keniscayaannya. Allah menciptakan manusia berbeda – beda, ada laki- laki, ada perempuan. Dia juga mentaqdirkan manusia terdiri atas berbagai bangsa dan suku. Namun seperti dinyatakan oleh-Nya sendiri bahwa perbedaan – perbedaan tersebut bukan untuk melebihkan satu dari yang lainnya dan untuk berpecah belah, namun sebaliknya untuk lita’arafu (saling mengenal, saling menghargai, saling menolong); dan sekaligus untuk mengukur dan membedakan tingkat ketaqwaan satu dari yang lainnya (Q.S. al-Hujurat: 13).
Perbedaan adalah orkestra kehidupan, di mana bunyinya satu sama lain berbeda, namun jika diatur dengan baik akan menimbulkan suara yang indah dan menyejukkan jiwa. Tak ada orkestra yang indah kalau alat musik maupun suaranya sama. Orkestra yang baik dihasilkan dari harmoni nada-nada yang berbeda.
Jika realitas kehidupan ini diibaratkan seperti orkestra, maka tak dapat dipungkiri lagi bahwa kita hidup dalam keragaman: keragaman pemahaman, pendapat, adat istisdat, bahkan keyakinan.
Singkat kata, perbedaan pendapat sering dan bahkan selalu dijumpai dalam masyarakat kita, mulai dari masalah – masalah sosial sampai masalah – masalah agama dan keagamaan.

Memperkokoh Sikap Tasamuh
Sekali lagi, Islam adalah agama yang mengakui adanya kemajemukan. Islam mengajarkan untuk menghargai perbedaan jenis kelamin, suku, bangsa bahkan agama. Oleh karena itu Islam mengajarkan sikap toleransi (tasamuh). Bentuk – bentuk toleransi yang diajarkan oleh Islam antara lain tidak ada paksaan dalam memilih agama (la ikraha fi al-din), kebolehan makan hewan sembelihan ahl al kitab, dan lain – lain (Thabbarah, 1993:425).
Nabi Muhammad saw sebagai sosok teladan memberikan contoh sikap toleransi ini secara nyata. Contoh sikap toleransi ini tercermin dalam Konstitusi Madinah yang antara lain berisi pengakuan bahwa antara orang – orang Islam dan orang – orang Yahudi Madinah adalah umat yang satu dan bangsa yang satu (Al Jabiriy, 1991: 93).
Jika pemahaman toleransi ini dibawa ke wilayah yang lebih jauh maka umat Islam mempunyai tanggungjawab untuk menghindari konflik atas nama agama. Agama apapun tidak membenarkan konflik, kekerasan dan peperangan atas nama agama. Islam dalam hal ini harus menjadi perekat komunitas manusia, bukan sebaliknya dipakai untuk melegitimasi kekerasan dan peperangan atas umat lain atau atas sesama muslim.
Bentuk – bentuk perilaku sebagai elaborasi dari pemahaman Islam toleran ini antara lain dengan melakukan kegiatan bersama untuk mengatasi persoalan – persoalan kemanusiaan secara bersama. Hal yang terakhir ini merupakan salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk mengeliminasi resistensi konflik horisontal antar umat beragama.

Menegakkan Perdamaian
Kehidupan dunia yang penuh kasih sayang, perdamaian dan kerukunan merupakan dambaan setiap manusia. Nabi Muhammad saw diutus untuk memerangi kemusyrikan, perbudakan, penindasan ketimpangan sosial ekonomi. Singkat kata Islam hadir untuk menjadi rahmat bagi kehidupan, rahmatan li al-’alamin. Itulah misi utama mengapa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah menjadi rasul-Nya, menyerukan ajaran-Nya kepada seluruh alam.
Misi perdamaian dalam ajaran Islam harus ditegakkan dan diperjuangkan dengan cara menghentikan segala bentuk kekerasan dan peperangan serta membangun sebuah solidaritas masyarakat bersama untuk anti kekerasan dan anti peperangan.
Dalam dataran kenyataan agama sering dipolitisir oleh beberapa pihak untuk kepentingan kelompok agama tertentu. Akibatnya kekerasan dan peperangan sering dicarikan argumen tologis. Politisasi agama semacam ini tentu harus dihindari oleh muslim karena bertentangan dengan prinsip – prinsip dasar Islam sebagai agama perdamaian untuk manusia.

Kalam Akhir
Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammd bermuara pada suatu tauhid yang menebarkan kasih sayang dan menegakkan perdamaian (peace making). Implementasi konsep ini salah satunya harus mewujud dalam perilaku menghargai harkat dan martabat manusia serta menjunjung tinggi nilai – nilai toleransi dalam hidup bermasyarakat. Tetapi pada dataran realitas mengapa banyak orang yang mengobarkan kerusuhan, kekerasan bahkan peperangan atas nama perbedaan pendapat. Inilah poin penting mengapa kita harus merenungkan kembali makna tasamuh dalam kehidupan.

(Naskah ini pernah dimuat di Majalah Risalah NU)

Islam Rahmatan lil ‘Alamien*

Iftitah
Alkisah, pada suatu malam Sahabat Umar meronda bersama Abdullah bin Mas’ud. Dari tempat yang agak jauh mereka melihat kerlipan cahaya dan mendengar sayup – sayup suara orang bersembunyi. Keduanya mengikuti arah suara itu dan sampailah mereka di sebuah rumah. Diam – diam Umar menyelinap masuk. Ia melihat seorang tua duduk sambil meneguk minuman keras, didampingi seorang wanita penghibur yang sedang bernyanyi. Umar menampakkan diri dan menghardik: “belum pernah aku melihat pemandangan seburuk yang aku lihat malam ini, seorang tua yang menanti ajalnya bermaksiyat”. Orang tua itu menjawab: “janganlah tergesa – gesa ya Amirul Mukminin, saya berbuat maksiyat hanya satu macam. Anda menentang Allah sampai tiga hal: pertama, Allah berfirman janganlah mengintip keburukan orang (al-Hujurat: 12). Anda telah mengintip. Kedua, masuklah kerumah – rumah dari pintunya (al-Baqarah: 189). Anda menyelinap masuk. Dan ketiga, anda sudah masuk kesini tanpa ijin. Padahal Allah berfirman, janganlah kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu minta ijin dan mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalamnya (an-Nur: 27)”. Umar berkata, “Kamu benar”. Maka keluarlah ia dari rumah itu seraya menyesali perbuatannya. (Jalaludin Rahmat, 1993: 106)
Kasus ini memberikan gambaran bahwa dalam tradisi Islam awal, telah terjadi proses bermasyarakat yang demokratis, dimana ada seorang rakyat yang berani mengingatkan pemimpinnya telah melakukan kesalahan karena melanggar tiga hak dasar manusia sekaligus: (1) hak kebebesan; (2) hak kehormatan; (3) hak milik. Yang patut dikagumi adalah sikap Khalifah Umar yang dengan ‘legowo’ segera menyadari kekeliruannya.
Tradisi semacam ini dilanjutkan oleh generasi – generasi muslim berikutnya. Sahabat Ali misalnya ketika melantik Gubernur Mesir Malik Asytar al-Nakha’iy berpidato agar memenuhi hak – hak masyarakat dengan baik, terutama kaum dhu’afa’. Ali berkata: ” orang – orang lemah dan miskin harus dibantu dan disantuni. Allah Maha Mencukupi mereka semua dan mereka pun memiliki haknya masing – masing yang harus dipenuhi oleh wali negeri akan kebutuhannya.” (al-Baqir, 1991: 102).
Singkat kata, dalam tradisi Islam, telah berlangsung praktik – praktik Islam rahmatan li-al’alamien, yang didalamnya terdapat beberapa penekanan: (1) semangat pembebasan, yakni membebaskan manusia dari kemusyrikan dan penindasan; (2) menciptakan keadilan sosial; (3) memperkuat demokrasi; (4) memperkokoh sikap tasamuh; (5) memperjuangkan hak asasi manusia; (6) melaksanakan perdamaian; dan (7) melestarikan lingkungan.

Islam Melakukan Pembebasan
Alqur’an merupakan wahyu Alah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw di jazirah Arab. Penduduk jazirah Arab di mana Alqur’an diturunkan saat itu dikenal sebagai masyarakat jahiliyah. Dalam masyarakat jahiliyah terdapat situasi dan sejarah ketertindasan manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat jahiliyah diabaikan dan tidak bisa berkembang dengan baik. Menurut KH. Mahfudh Ridwan (2004:25), ciri – ciri masyarakat jahiliyah ditandai dengan: (1) terjadinya praktik perbudakan sesama manusia; (2) diskriminasi terhadap perempuan dan manusia karena perbedaan warna kulit tertentu; (3) monopoli perdagangan yang menyebabkan ketidakadilan distribusi ekonomi; dan (4) konflik antar suku yang menempatkan kaum perempuan dan anak-anak sebagai korban utama peperangan.
Dalam konteks historis semacam inilah Islam hadir dengan rahmat (kasih sayang), membebaskan manusia dari perbudakan, diskriminasi, ketidakadilan, diskriminasi jenis kelamin, etnis dan warna kulit (QS. Al-Hujurat, 49:13). Nabi Muhammad saw. berjuang melakukan pembebasan terhadap belenggu tradisi jahiliyah yang tidak menghargai martabat manusia secara baik. Nabi Muhammad berjuang menegakkan masyarakat yang damai, penuh kasih, persaudaraan dan egaliter.
Sebagaimana dimaklumi bahwa para Nabi terdahulu juga melakukan gerakan pembebasan terhadap realitas sosial masyarakat yang tertindas, tidak adil. Ibrahim melakukan pembebasan terhadap tradisi – tradisi buta penyembahan berhala. Musa melakukan perjuangan pembebasan masyarakat melawan otoritarianisme Raja Fir’aun. Isa melakukan perlawanan untuk membebaskan manusia dari dominasi materialisme atas ruh.
Alqur’an menegaskan bahwa risalah kenabian adalah memberantas dekadensi moral dan sosial. Gerak kenabian di dalam sejarah selalu merupakan gerak progresif bagi kemanusiaan dalam dimensi keyakinan dan moralitas manusia. Dengan demikian tidak ada nabi yang tidak memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan menuju taraf yang lebih tinggi.
Menurut informasi Alqur’an, Islam adalah agama ketuhanan sekaligus agama kemanusiaan dan kemasyarakatan (QS. Ali Imran, 3:112). Ayat – ayat Alqur’an sebagian mengajarkan bagaimana cara berhubungan baik dengan Tuhan (habl min Allah), sebagian yang lain mengatur aspek – aspek kemanusiaan dan kemasyarakatan (habl min al-nas). Fazlur Rahman (1987:49) berkesimpulan bahwa elan dasar Islam yang tertuang dalam Alqur’an adalah moral yang memancarkan titik beratnya pada monotheisme dan keadilan sosial.
Penelitian yang dilakukan Jalaluddin Rahmat (1991:48-51) terhadap Alqur’an sebagai inti ajaran Islam menyimpulkan empat hal yang bertemakan kepedulian Alqur’an yang lebih tinggi kepada persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Pertama, dalam Alqur’an proporsi terbesar ditujukan kepada urusan kemanusiaan. Kedua, dalam kenyataan bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah, maka ibadah boleh diperpendek (qashr) atau ditangguhkan (jama’). Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyararakatan diberi ganjaran yang lebih besar daripada ibadah yang bersifat perorangan. Keempat, bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal karena melangar peraturan tertentu, maka dendanya kifaratnya (dendanya) adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
Dalam pandangan Islam, manusia mempunyai dua kapasitas yakni sebagai hamba (’abdullah) dan sebagai representasi Tuhan (khalifatullah). Konsekuensinya ia dituntut untuk memiliki kualitas kesalehan sebagai ’abdullah maupun sebagai khalifatullah. Manifestasi dari kesalehan sebagai hamba mewujud dalam kesalehan individual, kesalehan sebagai hamba mewujud dalam kesalehan sosial. Alqur’an menyatakan bahwa kesalehan tidak cukup dilakukan hanya dengan penyucian diri (riyadlah al-nafs) tetapi harus terefleksikan dalam sikap kepedulian terhadap penderitaan orang lain, terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan manusia satu atas manusia lainnya (QS, Al Ma’un, 107:1-7).
Menurut Hassan Hanafiy (1993: 129), jalan untuk mencapai kesalehan sosial antara lain dengan dimanifestasikan keadilan sosial dikalangan umat Islam dan menciptakan masyarakat yang egaliter, menghilangkan hegemoni dari pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah baik secara sosial, ekonomi paupun politik. Jalan lainnya adalah dengan menegakkan masyarakat yang bebas dan demokratis, dimana setiap individu berhak mengungkapkan pendapat, menyuarakan kritik dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Meluruskan Pemahaman Tauhid
Tauhid merupakan inti ajaran Islam. Secara asal tauhid merupakan masdar dari kata wahhada yang berarti menegaskan, membuat jadi satu, dan menyatukan. Secara istilah tauhid kemudian bermakna sikap mengesakan Allah dari segala bentuk kemusyrikan. Dari makna ini akan didapati unsur – unsur dalam tauhid adalah Tuhan (Ketuhanan), manusia (kemanusiaan) dan interaksi (penyatuan). Oleh karena itu jalan bertauhid adalah dengan penyatuan manusia terhadap Tuhan, mengingat cakupan tauhid itu adalah bidang kemanusiaan dan Ketuhanan (Simogaki, 1994: 17).
Menurut Muslim Abdurrahman (2005:3) tauhid tidaklah semata-mata konsep teologis yang vertikal tetapi juga moralitas yang paling dasar untuk membangun kesadaran bahwa ketidakadilan ekonomi, penindasan dan kesewenang-wenangan merupakan ancaman kemanusiaan yang serius. Dengan kata lain tauhid juga mengandung unsur kemanusiaan yang dalam. Tauhid menembus batas-batas kemanusiaan manusia. Dalam tauhid terkandung makna penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. Manusia tidak boleh dibeda – bedakan penghormatan harkat kemanusiaannya antara kaya-miskin, maju-terbelakang, Barat-non Barat, dan lain-lain.
Hassan Hanafiy (1980:2) menjelaskan bahwa tauhid membawa implikasi pada dua hal: pertama, penerimaan (acceptance) terhadap hal – hal yang bersesuaian dengan dimensi-dimensi ketuhanan dan kemanusiaan; dan kedua, penolakan (rejection) terhadap hal – hal yang berlawanan dengan dimensi – dimensi ketuhanan dan kemanusiaan seperti diskriminasi rasial, etnosentrisme dan egoisme.
Tauhid hendaklah dimaknakan sebagai upaya untuk menyelamatkan manusia baik individu maupun sosial. Jika penguatan pemahaman tauhid ini dilakukan, maka tauhid bisa dipakai sebagai landasan etik dan moral bagi upaya perjuangan sosial untuk menegakkan demokrasi, menentang ketidakadilan, menentang diskriminasi dan melakukan upaya membebaskan manusia dari belenggu penindasan sosial, politik maupun ekonomi. Singkat kata tauhid bisa dipakai sebagai landasan untuk menegakkan keadilan, demokrasi, toleransi dan hak asasi manusia. Inilah inti ajaran Islam yang membebaskan.

Menciptakan Keadilan Sosial
Islam memerintahkan umatnya untuk menegakkan keadilan sosial. Karena secara jelas Alqur’an mengklaim orang yang tidak mau menegakkan keadilan sosial sebagai pendusta agama dan dihukum berat oleh Tuhan (QS, Al Ma’un, 107:1-7).
Nabi Muhammad saw. diperintahkan oleh Allah untuk membangun keadilan diantara umat manusia (QS, As Syura: 15). Oleh karena itu Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa untuk mencapai derajat taqwa seseorang harus memperjuangkan keadilan sosial, karena keadilan itu dekat sekali dan merupakan essensi taqwa (i’dilu huwa aqrabu li al taqwa).
Dalam Islam, keadilan sosial adalah motivasi keagamaan yang essensial sekaligus dasar moral bagi suatu susunan masyarakat (Boigard, :142) Dengan kata lain élan dasar dari moral Alqur’an adalah keadilan social.
Jalan untuk memperjuangkan keadilan social dapat dilakukan dengan melakukan perbuatan ihsan atau kebaikan yang berpihak kepada kaum yang tertindas dan lemah. Implementasi dari model keperpihakan ini dapat diwujudkan misalnya dengan melakukan pendidikan yang berpihak kepada kaum mustad’afin, melakukan penguatan ekonomi masyarakat yang termiskinkan oleh struktur ekonomi neokapitalisme, dan seterusnya.

Memperkuat Demokrasi
Demokrasi secara umum dimakanakan sebagai prosrs interaksi antar manusia yang diletakkan diatas dasar pegakuan kesamaan martabat manusia dan penghormatan terhadap hak partisipasi setiap individu dalam pengambilan keputusan – keputusan publik.
Dalam Alqur’an banyak dijumpai ayat – ayat yang menerangkan konsep kesamaan martabat manusia dan prinsip – prinsip musyawarah dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan publik, misalnya QS al-Nisa’: 36, al-Nur: 33, dan al-Nahl:71. Pengingkaran terhadap nilai – nilai demokrasi dalam konteks ini berarti penngingkaran terhadap essensi ajaran Alqur’an. Maka membangun sebuah negara yang demokratis menjadi tanggungjawab bersama setiap muslim. Dalam kaitan ini menegakkan kaidah – kaidah demokrasi seperti yang diajarkan Alqur’an harus dilakukan pada setiap tatanan kehidupan masyarakat, baik di kampus, di pemerintahan maupun di organisasi kemasyarakatan.
Ajaran menegakkan demokrasi ini juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Dalam khutbah haji wada’ Nabi memperingatkan kesamaan manusia dihadapat Allah dengan menyatakan bahwa sahaya-sahaya itu adalah manusia yang sama derajatnya dengan sahabat lainnya (Thabbarah, 1993:54). Lebih lanjut Nabi mengajarkan melalui Alqur’an yang diturunkan kepadanya bahwa pembedaan derajat seseorang dihadapan Tuhan adalah dalam hal ketaqwaannya, inna akramakum indallahi atqakum (QS, Al Hujurat, 49:13).

Memperkokoh Sikap Tasamuh
Islam adalah agama yang mengakui adanya kemajemukan. Islam mengajarkan untuk menghargai perbedaan jenis kelamin, suku, bangsa bahkan agama. Oleh karena itu Islam mengajarkan sikap toleransi (tasamuh). Bentuk – bentuk toleransi yang diajarkan oleh Islam antara lain tidak ada paksaan dalam memilih agama (la ikraha fi al-din), kebolehan makan hewan sembelihan ahl al kitab, dan lain – lain (Thabbarah, 1993:425).
Nabi Muhammad saw sebagai sosok teladan memberikan contoh sikap toleransi ini secara nyata. Contoh sikap toleransi ini tercermin dalam Konstitusi Madinah yang antara lain berisi pengakuan bahwa antara orang – orang Islam dan orang – orang Yahudi Madinah adalah umat yang satu dan bangsa yang satu (Al Jabiriy, 1991: 93).
Jika pemahaman toleransi ini dibawa ke wilayah yang lebih jauh maka umat Islam mempunyai tanggungjawab untuk menghindari konflik atas nama agama. Agama apapun tidak membenarkan konflik, kekerasan dan peperangan atas nama agama. Islam dalam hal ini harus menjadi perekat komunitas manusia, bukan sebaliknya dipakai untuk melegitimasi kekerasan dan peperangan atas umat lain atau atas sesama muslim.
Bentuk – bentuk perilaku sebagai elaborasi dari pemahaman Islam toleran ini antara lain dengan melakukan kegiatan bersama untuk mengatasi persoalan – persoalan kemanusiaan secara bersama. Hal yang terakhir ini merupakan salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk mengeliminasi resistensi konflik horisontal antar umat beragama.

Memperjuangkan Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia adalah hak – hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia yang hidup di muka bumi ini. Setiap manusi yang lahir secara langsung dia memiliki hak – hak dasar yang tidak boleh dilanggar oleh orang lain, seperti hak hidup, hak mendapatkan penghidupan, hak mendapatkan perlindungan. Negara dalam konteks ini mempunyai tanggungjawab untuk menjamin terpenuhinya hak asasi ini.
Dalam Islam penghargaan terhadap hak asasi manusia dapat dilihat secara nyata pada tujuan penetapan syariat (maqashid al-syari’ah) yakni melindungi jiwa (nafs), harta (maal), keturunan (nasab), akal pikiran (’aql) dan keyakinan (dien). Islam memberi pengakuan dan jaminan atas hak – hak dasar manusia tersebut. Pengakuan atas hak tersebut dapat dilihat secara nyata misalnya pada QS al- Nahl:71, QS, al-Kafirun: 6, dan lain – lain.
Penguatan HAM dalam Islam harus dilakukan oleh setiap individu muslim, karena itu tidak diperbolehkan praktik – paraktik penindasan manusia satu terhadap manusia lainnya, kaum satu terhadap kaum lainnya. Perlawanan terhadap penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya apapun agamanya erupakan semangat dari Islam Yang Membebaskan. Yang perlu digarisbawahi disini adalah bahwa perjuangan HAM harus diletakkan dalam konteks kejujuran, keadilan dan solidaritas kemanusiaan sehingga menimbulkan suatu tata pergaulan masyarakat berskala lokal, nasional maupun nternasional yang baik diatas landasan saling menghormati satu sama lain.
Implementasi dari penguatan kesadaran HAM ini akan melahirkan sebuah tatanan masyarakat dunia yang damai tanpa kekerasan dan peperangan. Inilah salah satu dari inti ajaran Islam yakni membebaskan manusia dari kekerasan, peperangan, dan penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah.

Menegakkan Perdamaian
Kehidupan dunia yang penuh kasih sayang, perdamaian dan kerukunan merupakan dambaan setiap manusia. Nabi Muhammad saw diutus untuk memerangi kemusyrikan, perbudakan, penindasan ketimpangan sosial ekonomi. Singkat kata Islam hadir untuk menjadi rahmat bagi kehidupal, rahmatan li al-’alamin. Itulah misi utama mengapa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah menjadi rasul-Nya, menyerukan ajaran-Nya kepada seluruh alam.
Misi perdamaian dalam ajaran Islam harus ditegakkan dan diperjuangkan dengan cara menghentikan segala bentuk kekerasan dan peperangan serta membangun sebuah solidaritas masyarakat bersama untuk anti kekerasan dan anti peperangan.
Dalam dataran kenyataan agama sering dipolitisir oleh beberapa pihak untuk kepentingan kelompok agama tertentu. Akibatnya kekerasan dan peperangan sering dicarikan argumen tologis. Politisasi agama semacam ini tentu harus dihindari oleh muslim karena bertentangan dengan prinsip – prinsip dasar Islam sebagai agama perdamaian untuk manusia.
Ajaran Islam pembebasan yang dibawa Nabi Muhammd bermuara pada suatu tauhid yang membebaskan, menebarkan kasih sayang dan menegakkan perdamaian (peace making). Tetapi pada dataran realitas mengapa banyak orang yang mengobarkan kerusuhan, kekerasan bahkan peperangan atas nama agama.

Melestarikan Lingkungan
Elaborasi dari konsep Islam rahmatan li-al’alamien, adalah kewajiban setiap muslim menjaga kelestarian lingkungan. Lingkungan merupakan amanat Allah yang diberikan kepada manusia untuk mengelolanya. Pengelolaan sumber daya alam hendaknya dilakukan dengan kesadaran teologis bahwa perilaku melestarikan lingkungan merupakan bahagian dari ibadah. Oleh karenanya dalam melakukan pengelolaan sumber daya alam hendaklah diperhatikan faktor kemanfaatan, keberlangsungan, maupun kelestarian. Faktor kemanfaatan menyangkut aspek kemaslahatan bagi umat manusia dalam kehidupan. Dalam memanfaatkan alam ini harus diperhatikan pula faktor kelestarian, dengan tidak merusak dan menghancurkan keberlangsungan dan keseimbangan ekosistemnya. Harus diyakini bahwa alam ini diciptakan oleh Allah bukan untuk generasi kita saja, tetapi juga untuk generasi anak cucu yang akan datang.

Catatan Akhir
Islam merupakan rahmat bagi Alam (rahmatan li al-’alamien). Datangnya syari’at Islam dimaksudkan untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam dengan memberikan perlindungan secara selaras terhadap hak – hak individu dan masyarakat, maupun terhadap lingkungan alam. Implementasi konsep ini mewujud dalam perilaku muslim untuk menghargai harkat dan martabat manusia, menjunjung tinggi nilai – nilai keadilan, demokrasi, toleransi, perdamaian dan hak asasi manusia serta melestarikan lingkungan.

* Tulisan pernah dipresentasikan di OPAK mahasiswa STAIN Salatiga

Mengapa Kita Harus Bersandar Pada Pendapat Ulama

Muqaddimah

Pada sebuah halaqah muncul pertanyaan dari jamaah: “mana yang harus diikuti, Nabi Muhammad SAW, atau Imam Syafi’i, atau Hadharatus Syaikh Hasyim Asy’ariy?” Pertanyaan tersebut memiliki tiga kerancuan berfikir (untuk tidak dikatakan kesesatan berfikir).
Pertama, munasabah atas ketiga figur tersebut tidak pada tempatnya, karena ketiganya tidak dapat dihadapkan secara diametral. Nabi SAW, Imam Syafi’i, dan Syaikh Hasyim Asy’ari menempati maqam masing-masing, di mana yang sesudahnya menjadi penjabar dari ajaran atau tradisi sebelumnya. Kongkritnya, sunnah Nabi SAW, dipakai sebagai sandaran oleh Imam Syafi’i dalam ber-ijtihad, lalu hasil ijtihad Imam Syafi’i, dibumikan oleh Syeikh Hasyim As’ariy agar mudah dilaksanakan sesuai konteks Indonesia.
Kedua, mafhum mukhalafah dari pertanyaan tersebut menyiratkan pesan bahwa kita tidak perlu bersandar pada pendapat ulama tetapi harus langsung merujuk kepada sunnah Nabi SAW. Anggapan bahwa ilmu atau ajaran bisa sampai tanpa melalui tangga merupakan kekeliruan, karena setiap ilmu memerlukan tangga. Tangga ilmu diperlukan untuk pertanggungjawaban epistemologis mengenai kesahihan ilmu.
Ketiga, dari perspektif yang lebih luas, maka pertanyaan itu seolah hendak menegasikan tawadlu’ kita kepada ilmu dan orang-rang yang berilmu (‘ulama). Tentu ini bertentangan dengan semangat menjunjung tinggi keluhuran ilmu ulama sebagai pewaris para Nabi.

Tangga Keilmuan Islam
Sebagaimana sudah mafhum di kalangan umat Islam bahwa sumber utama ajaran Islam adalah: al-Qur’an, al-sunnah, dan ijtihad. Al-Qur’an diwahyukan Allah SWT kepada Nabi SAW sebagai pedoman kehidupan. Mayoritas muslim meyakini bahwa al-Qur’an baik lafadh maupun maknanya berasal dari Allah. (lafdhiyyan wa ma’nawiyan min Allah ‘azza wajalla). Sebahagian dari ayat al-Qur’an ada yang bersifat global, sebahagian lainnya ada yang rinci. Contoh ayat yang global antara lain perintah shalat. Al-Qur’an tidak merinci tata cara atau kaifiyyah shalat, maka Nabi SAW mengajarkan cara shalat untuk mengimplementasikan perintah tersebut. Sampai pada titik ini lalu muncul pertanyaan, apakah kita pernah melihat atau menerima pelajaran langsung dari Nabi SAW mengenai tata cara shalat? Tentu jawabannya tidak pernah. Secara tangga keilmuan kita dapat meyakini bahwa orang yang pernah melihat atau diberitahu oleh Nabi SAW tentang tata cara shalat adalah para sahabat langsung beliau. Tangga selanjutnya dari para sahabat turun ilmu tentang shalat itu kepada para tabi’in. Tabi’in adalah orang yang melihat atau diberi pelajaran shalat oleh para sahabat Nabi SAW. Sampai pada tangga ini umat Islam pada zaman sekarang ini belum dapat meng-klaim bahwa ia mendapatkan ilmu shalat dari tabi’in, karena tabi’in hidup pada zaman sekitar tahun 700 an Masehi. Dari tabi’in kita mendapati hadits tentang shalat yang sudah dipetik oleh tabi’ al-tabi’in (pengikut tabi’in). Pada tangga keempat inilah baru para ulama salaf al-shalih mengkodifikasi hadits Nabi SAW, lalu dilakukan takhrij oleh para ulama sesudahnya, bahkan sebahagiannya diberi syarkh atau keterangan. Dengan tangga epistemologi ilmu seperti itu maka mustahil kita meninggalkan pendapat atau pemahaman ulama tentang suatu masalah keagamaan. Jika ada diantara muslim pada zaman ini (apalagi awam soal ilmu agama) meng-klaim dapat memahami sunnah Rasul tanpa perantaraan ulama, maka hal itu sulit dipercaya, bahkan hal itu menunjukkan takabbur intelektual bahkan syirk intelektual.

Ijtihad Ulama
Disamping terdapat ayat-ayat global dan rinci, di dalam al-Qur’an juga dijumpai ayat-ayat yang jelas/qath’i atau sering disebut ayat-ayat muhkamat dan samar/dhanni atau mutasyabihat. Pada area ayat-ayat dhanni inilah ijtihad menemukan titik pentingnya. Tanpa ijtihad, maka sangat sulit kita memahami makna ayat al-Qur’an. Pertanyaannya apakah semua orang dapat ber-ijtihad dalam soal istimbat al-ahkam (pengambilan ketetapan hukum). Tentu tidak semua orang dapat istimbat al-ahkam. Ada syarat-syarat tertentu seseorang boleh berijtihad terutama dalam persoalan fiqh, yakni:(a) memiliki ilmu yang luas tentang ayat-ayat al-Qur’an; (b) berilmu luas mengenai hadits Nabi SAW; (c) menguasai masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma’; (d) menguasai secara mendalam masalah qiyas; (e) menguasai bahasa Arab secara mendalam; (f) menguasai nasikh-mansukh secara mendalam; (g) memahami asbab al-nuzul dan asbab al-wurud; (h) mengetahui sejarah para perawi hadits agar dapat melakukan takhrij dengan benar; (i) memiliki ilmu mantiq secara mendalam, dan (j) menguasai kaidah-kaidah istimbat al-ahkam.
Pertanyaan selanjutnya, apakah orang awam dapat memenuhi syarat-syarat di atas? Tentu belum. Yang memenuhi syarat-syarat tersebut adalah para ulama tertentu. Pada titik inilah lagi-lagi kita harus bersandar pada ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Maliki, ataupun Imam Hambali.
Sebagai contoh dapat diilustrasikan, kita dapat memahami enam rukun wudlu dengan cara bersandar kepada pendapat Imam Syafi’i. Jika kita tidak bersandar pada pendapat ulama, maka kita dimungkinkan hanya menemukan rukun wudlu itu empat perkara saja, yakni: membasuh muka sebagai rukun pertama, membasuh kedua tangan sampai siku sebagai rukun kedua, mengusap rambut kepala sebagai rukun ketiga, dan keempat membasuh kaki sampai mata kaki (Q.S. al-Maidah: 6). Ijtihad Imam Syafi’i mengajarkan kepada kita untuk memulai wudlu dengan niat sebagai rukun pertama, berdasar perintah Nabi SAW, innamal a’mau bi al-niyyah. Sementara rukun keenam yakni tertib, didasarkan pada perintah Nabi SAW, ibdauu bimaa badaallah (mulailah mengerjakan sesuatu dengan apa yang Allah dahulukan).

Ulama Indonesia
Mengapa kita harus bersandar pula pada ulama Indonesia, semisal Syaikh Nawawi al Bantani, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabauwi, dan Hadharatus Syeikh Hasyim Asy’ariy?
Dari uraian-uraian awal sesungguhnya telah cukup mafhum bahwa kita bersandar kepada para ulama (termasuk ulama Nusantara) karena kita harus menempatkan kesadaran tawadlu’ kita pada ilmu dan orang-orang yang berilmu. Disamping itu masalah pertanggungjawaban keilmuan berdasarkan sanad ilmu menjadi bagian tak terpisahkan dari keislaman seorang muslim.
Dengan menghormati dan mengikuti tradisi para ulama, sebenarnya telah mengikuti sunnah Nabi SAW, karena sunnah Nabi telah diwariskan kepada para ulama. Di tangan para ulama, ajaran Nabi SAW telah dibumikan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana Islam ada. Di tangan para ulama Nusantara, spirit Islam yang disunnahkan Nabi SAW, telah mampu menggerakkan jihad melawan kolonialisme dan meraih kemerdekaan menuju tatanan masyarakat yang baik.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah spirit Islam untuk membangun tatanan masyarakat madani (berperadaban tinggi) sebagaimana diajarkan Nabi SAW telah terwarisi oleh generasi muslim kekinian, atau malah sebaliknya, di mana faktanya sebahagian muslim sibuk atas nama ‘meluruskan aqidah’, tapi malah ‘merisaukan ukhuwwah’, dan kadang malah meruntuhkan peradaban. Mari kembali kepada ajakan mabadi’khaira ummah yang disampaikan oleh Hadharatus Syekh Hasyim Asy’ari, dan para ulama Nusantara lainnya dalam ber-Islam, yakni: tawashuth, tawazun, tatsamuh, dan i’tidal.

Wallahu a’lam.

Memaknai Zakat Fitrah

 Iftitah

Setiap akhir ramadhan umat Islam melaksanakan kewajiban mengeluarkan zakat al-nafs atau lazim dikenal dengan zakat fitrah. Banyak ragam dalam pelaksanaannya, ada yang melalui ‘amil atau panitia zakat, ada pula yang dibagikan secara langsung. Begitupun jenisnya juga bervariasi, ada yang berupa uang atau makanan pokok.

Menurut ketentuan fiqh, waktu dikeluarkannya zakat fitrah adalah semenjak awal Ramadhan sampai menjelang pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri dimulai (Kifayatul Akhyar, tt.: 192). Ini dimaksudkan agar semua muslim bersuka cita menyambut hari raya tanpa kecuali. Diharapkan jangan ada yang kekurangan makanan saat lebaran. Dengan pemberian zakat fitrah diharapkan ada perlindungan bagi orang yang sangat membutuhkan yakni fakir dan miskin.

Namun dalam dataran realitas menurut survei penulis, sering dijumpai pelaksanaan zakat fitrah yang cenderung hanya sekedar melaksanakan formalitas fiqh bahkan rutinitas belaka, tanpa dibingkai dalam semangat keberpihakan pada kaum yang kurang mampu. Misalnya ada yang memberikan porsi terbesar dari jumlah yang terkumpul kepada pembangunan musholla atau bahkan ‘amil. Tentu ini bertentangan dengan spirit ajaran zakat fitrah.

 

Spirit Ajaran

          Tujuan penetapan syariat dalam Islam secara umum adalah melindungi dan memberikan kesejahteraan umat manusia, terutama bagi kaum yang kurang mampu. Argumen mengapa kaum dhu’afa lebih ditekankan dalam ajaran Islam, karena spirit ajaran Islam adalah menciptakan tatanan yang adil bagi harkat dan martabat kemanusiaan (Moeslim Abdurrahman, 2005: 9).

Zakat fitrah dapat menjadi salah satu sarana efektif penopang ekonomi kaum kurang mampu jika dikekola secara baik berdasarkan prinsip kemaslahatan yang lebih luas. Misalnya dihimpun melalui sebuah lembaga yang profesional dan kredibel, lalu disusun program pengentasan kemiskinan secara sistematis menggunakan dana zakat fitrah tersebut.

Wacana ini tentu mengundang keberatan karena akan berbenturan dengan tekstualitas fiqh yang sudah lazim berlaku di kalangan muslim. Pertama, dalam hampir semua literatur fiqh mewajibkan uang atau makanan pokok yang terkumpul harus dibagi habis kepada delapan ashnaf atau yang berhak menerima, sebelum shalat ‘Id dimulai. Kedua, soal keterwakilan delapan kategori ashnaf yang harus mendapat bagian.  Ketiga, dari sisi takaran atau jumlah yang harus dikeluarkan fiqh memberi ketentuan satu sha’ ( setara 3,1 liter).

 

Reaktualisasi Fiqh

          Perdebatan mengenai reaktualisasi fiqh telah menyejarah dalam tradisi Islam, bahkan sejak zaman para sahabat. Menurut hemat penulis perdebatan fiqh dalam masa kontemporer sekarang ini harus lebih ditekankan pada upaya semakin mendekatkan Islam bagi kesejahteraan umat manusia, bukan justru malah menjauhkan nilai-nilai ajaran Islam dari persoalan kemanusiaan. Dengan kata lain ajaran Islam harus dipahami sebagai ideologi kehidupan (ideological of life) untuk menyejahterakan umat.

Sampai pada tataran ini agaknya gagasan reaktualisasi fiqh tentang zakat fitrah menemukan argumentasi teologisnya. Misalnya tentang takaran zakat fitrah. Secara tekstual, Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar RA. sebagai berikut: “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ (3,1 liter) kurma atau gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, baik laki-laki maupun perempuan, baik kecil maupun tua dari kalangan kaum muslimin; dan beliau menyuruh agar dikeluarkan sebelum pergi ke tempat shalat Idul Fitri” (HR. Muttafaqun ‘Alaih, dalam Muslim II: 277 no. 279).

Jika dipahami secara harfiah maka takaran 3,1 liter itu merupakan jumlah yang sudah tetap dan pasti. Namun jika ditinjau lebih mendalam muncul pertanyaan mengapa Rasulullah menetapkan 3,1 liter, tentu ada argumen tersembunyi yang tidak dinyatakan dalam teks. Menurut analisis historis-kritis, mengapa Rasulullah SAW menetapkan 3,1 liter karena nominal rata-rata yang dimakan oleh para sahabat saat itu 3,1 liter. Dari sini muncul pertanyaan bagaimana kalau ada seorang konglomerat yang rata-rata tiap harinya makan senilai 500 ribu rupiah, apakah nominal zakat fitrahnya sama dengan seorang pekerja bangunan yang hanya makan 5 ribu rupiah setiap harinya? Jika alur pikir ini digunakan, agaknya cita-cita zakat bagi kemanusiaan dapat direalisasikan (Nurcholis Madjid, 2000: 155).

Dari perspektif substansi ajaran fiqh dan kemaslahatan umat rethingking seperti itu perlu diwacanakan kembali. Tentu semangatnya adalah bagaimana menjadikan ajaran zakat fitrah lebih bermanfaat. Wallahu a’lam.

*Artikel ini pernah dimuat di Radar Semarang Jawa Pos Tahun 2012

Daftar Pustaka

Abdurrahman, Moeslim, Islam Yang Memihak, LKiS, Yogyakarta, 2005

Al-Hasaniy, Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad, Kiafayatul

                       Akhyar Juz I,  Toha Putra, Semarang, tt.

Madjid, Nurkholis, Puasa Titian Menuju Rayyan, Pustaka Pelajar,

Yogyakarta, 2000

Muslim II: 277 no. 279