Saleh Individual dan Saleh Sosial

Alkisah, ada seorang jamaah pengajian bertanya kepada ustadz bagaimana hukumnya seseorang yang sedang berpuasa kemudian ia melakukan ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba), apakah puasanya batal. Dengan argumen hadits ustadz menjawab bahwa perbuatan – perbuatan :(1) kidzb; (2) ghibah wa al-namimah; (3) nadlarun bi al-shahwah; dan (4) yumna la bihaq, termasuk kategori yang menyebabkan puasa kita pahalanya tidak diterima Allah. Mendengar jawaban ustadz tersebut jamaah bertanya polos, “puasanya batal ndak pak?”. Lantas ustadz tersebut menjawab “tidak”.
Ada hal menarik dalam kisah jamaah pengajian tersebut, di mana ada perdebatan antara apakah puasa itu semata – mata legal formal fiqhiyah, atau substansial syariah. Jika puasa hanya semata – mata dipandang sebagai persoalan formal fiqh, maka yang mengemuka adalah jawaban bahwa orang yang melakukan ghibah dan namimah puasanya tidak batal. Tetapi jika puasa dipahami sebagai sesuatu yang substansial syariat, maka jawabannya tentu batal, karena ghibah dan namimah telah melanggar makna substansial dari puasa itu sendiri.
Jika persoalan ini durunut lebih lanjut sebenarnya perbedaannya ada pada soal cara pandang atau metodologi dalam memahami Islam. Cara pandang pertama melihat bahwa mengamalkan ajaran Islam itu harus seusai persis dengan teks Alqur’an maupun Hadits. Cara pandang ini kemudian menimbulkan implikasi pada pemaknaan formal dari ajaran Islam itu sendiri. Akibatnya fiqh menjadi ‘kering’ dari spirit ajaran itu sendiri. Jika disederhanakan maka cara pandang model ini akan melahirkan individu muslim yang memiliki kesalehan individual tinggi di satu pihak sedangkan di pihak lain kesalehan sosialnya menjadi berkurang.
Cara pandang kedua melihat bahwa pengamalan ajaran Islam itu harus dilakukan dengan cara memahami semangat atau elan dasar dari ajaran itu sendiri. Jadi bukan formalnya yang dipentingkan tetapi spiritnya, substansi ajarannya. Implikasi dari cara pandang ini biasanya akan melahirkan tipe seorang muslim yang memiliki kesalehan sosial yang tinggi, karena ia mencoba mengelaborasi ajaran dari sisi semangat kemanusiaannya.

Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial
Dalam Alquran banyak dijumpai terminologi kesalehan baik dengan kata shalih, khair, al-birr, hasan, maupun beberapa turunan katanya. Kata shalih secara umum diartikan sebagai kebajikan (rightious), baik (good). Kata shalih biasanya didahului dengan kata iman, misalnya QS. al-Ashr: 2. Ini memberikan makna bahwa shalih merupakan manifestasi dari iman. Iman menjadi tidak bermakna tanpa kesalehan, sebaliknya kesalehan tanpa iman menjadi perbuatan yang tanpa landasan teologis bahkan tidak bisa disebut kesalehan. Perbuatan shalih harus dilandasi iman agar dapat disebut kesalehan.
Istilah khair banyak dipakai dalam Alquran untuk mengungkapkan kebaikan, rahmat, keimanan dan kemanfaatan. Misalnya, kuntum khaira ummatin…. (Q.S. Ali Imron:110) Dalam kata khair terdapat makna kebaikan mahiyah (kebaikan yang berasal dari Tuhan) dan kebaikan insaniyah (kebaikan yang berasal dari manusia). Jadi dari pemahaman kata khair ini terdapat makna bahwa suatu perbuatan baik itu harus sesuai dengan sudut pandang ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan.
Kata al-birr dan turunannya banyak dipakai dalam Alquran untuk mengungkapkan perilaku kebaikan yang berdimensi luas bagi masyarakat. Contoh yang paling populer dari turunan kata ini adalah mabrur. Maka disebut haji mabrur kalau perilaku sosialnya lebih baik setelah melakukan ibadah haji. Jadi makna al-birr lebih bernuansa habl min al-nas, emphasis to justice and social life.
Kata hasan diartikan sebagai kebaikan, kebahagiaan baik yang berdimensi duniawi maupun ukhrowi. Doa yang diajarkan dalam Alquran rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah, menjadi contoh bahwa Alquran mengajarkan kepada manusia untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat sekaligus. Ini mengandung makna secara vertikal harus berbuat baik, secara horizontal pun demikian harus berbuat baik.
Dari beberapa terminologi yang dipakai Alqur’an tersebut di atas, makna substansi dari kesalehan yang diajarkan dalam Islam adalah kesalehan individual maupun sosial, yang muaranya berujung pada kata taqwa. Jadi taqwa dalam konteks ini bermakna akumulasi dari kesalehan ritual yang bersifat vertikal ketuhanan dan kesalehan horisontal kemanusiaan. Antara keduanya tidak bisa dipisahkan, walaupun mungkin dapat digolongkan. Misalnya secara sederhana dapat digolongkan: syahadat, shalat, dapat diidentikkan dengan kesalehan individual-vertikal, sedangkan infaq, shadaqah, menolong sesama, membantu fakir miskin dan kaum dhu’afa dapat disebut sebagai manifestasi dari kesalehan sosial-horisontal.

Menyeimbangkan Kesalehan
Dalam dataran empirik ada beberapa orang yang menganggap penting sekali kesalehan individual dan menganggap tidak penting kesalehan sosial. Ekspresi dari hal ini misalnya, ada beberapa orang yang tekun sekali beribadah ritual tetapi tidak peduli dengan persoalan – persoalan sosial di sekitarnya. Sebaliknya ada orang yang menganggap penting sekali kesalehan sosial, sehingga tidak terlalu memperhatikan kesalehan individualnya.
Menurut hemat kami, setiap orang dapat mengembangkan diri untuk membentuk kesalehan individual tanpa meninggalkan kesalehan sosial atau sebaliknya. Dengan kata lain untuk menjadi muslim yang komprehensif, perlu menyeimbangkan dua bentuk kesalehan sekaligus. Jika hanya salah satu yang diyakini dan menafikan yang lainnya maka menjadi ganjil dan tidak bermakna. Artinya jika hanya saleh individual saja, tanpa memperhatikan kesalehan sosial, maka akan dikategorikan sebagai orang yang mendustai agama (QS. Al-Ma’un:1-7). Sebaliknya jika hanya saleh sosial saja, menganggap tidak penting kesalehan individual, maka kesalehan tersebut akan mengawang, tidak ada ikatan (chenthelan-jawa) dengan identitas keislamannya.
Dilihat dari basis epistemologinya, menarik apa yang dinyatakan oleh Fazlurrahman, bahwa inti ajaran Islam adalah tauhid. Tauhid harus mewujud dalam dua hal sekaligus: pertama, monotheisme dan kedua, keadilan sosial. Artinya bahwa orang yang tauhidnya tinggi secara otomatis mempunyai dua kesadaran sekaligus yakni ketuhanan atau monotheisme dan kemanusiaan atau keadilan sosial. Jadi antara kesalehan individual dan sosial merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya merupakan wujud dan manifestasi dari ketauhidan seseorang.
Pertanyaannya, bagaimana jika antara tuntutan kesalehan individual dan kesalehan sosial “bertabrakan”? Menurut Jalaluddin Rahmat, Islam lebih banyak memperhatikan aspek sosial daripada individual:
• Bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan muamalah, maka dapat diperpendek atau ditangguhkan, contoh sholat jama’ dan qashar.
• Ibadah secara kolektif diganjar lebih besar daripada sendirian, contoh shalat jamaah.
• Ibadah yang tidak dapat dilaksanakan karena tidak mampu atau batal, maka gantinya adalah sedekah, contoh orang tua renta yang tidak mampu berpuasa, maka diganti dengan membayar fidyah.
• Ibadah ritual dapat diganti jika ada faktor sosial khusus yang memerlukannya, contoh: jika akan wudlu, ada anjing yang kehausan, maka airnya harus dikasihkan anjing tersebut, lalu wudlu diganti tayamum.

Salatiga, 1 Mei 2015