Berbakti Kepada Orang Tua Menurut Sunnah Rasul

Berbakti kepada orang tua hukumnya wajib berdasar:
– Hukum Syari’at : antara lain QS. Al-Ahqaaf: 15; QS. Luqmaan: 14; QS. An Nisa’ : 36; QS. Al Isra’: 23 dan hadith-hadith shahih antara lain: HR. Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, HR. Bukhari dari Riwayat Abdullah bin Umar, dll.
– Hukum Kemanusiaan : secara naluriah manusia memiliki tabiat untuk berbakti kepada orang tuanya karena orang tua telah mengasuh, mendidik dan membesarkan anaknya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang, melebihi sayangnya pada diri sendiri.
Rasul mengajarkan, berbakti kepada orang tua dapat dilakukan baik pada saat orang tua masih hidup maupun orang tua sudah meninggal.
Birrul Walidain saat orang tua masih hidup antara lain dengan:
– Tidak menentang dan menyakiti hatinya seperti berkata-kata yang tidak sopan, semisal: uff. (QS.al-Isra’:23)
– Berterima kasih kepada orang tua atas jerih payahnya mendidik dan membesarkan (QS. Luqmaan: 14)
– Mendoakan orang tua (QS. Ibrahim:14)
– Bershilaturrahmi pada keluarga, handai tolan, maupun kolega orang tua (HR. Anas bin Malik)
– Meneladani tradisi-tradisi amal sholih orang tua.
– Bersedekah kepada orang tua, terutama pada saat orang tua sangat membutuhkan, dll.
Birrul Walidain saat orang tua sudah meninggal:
– Mendoakan (terutama) setiap habis shalat maktubah. (HR. Muslim; HR. Turmudzi)
– Membacakan al-Qur’an sampai khatam, setidak-tidaknya (yang terutama) Surat Yasin (HR. Baihaqi, HR. Abu Dawud, Nasai), yang dalam masyarakat menjadi Khataman dan Yasinan.
– Mengeluarkan sedekah kebaikan amal/pahalanya diperuntukkan bagi yang sudah meninggal (HR. Muslim), yang dikenal dengan Slametan.
– Membacakan surat al-Fatihah, awal Surat al-Baqarah, ayat kursi, akhir surat al-Baqarah, bacaan la ilaaha illallah, subhanallah, istighfar, dan shalawat. (HR. Thobroniy, dari riwayat Abdurrahman al-‘Allai), bacaan-bacaan ini oleh ulama disebut Tahlilan. Agar ajeg dan mudah diingat maka dibuat tradisi Telung Dino, Pitung Dino, Matang Puluh, Nyatus, Mendhak Pisan, Pindho, Haul, dll.agar selalu ingat pada orang tua yang telah meninggal sekaligus sarana ingat mati bagi yang masih hidup (Dzikrul Maut)
– Melakukan ibadah hajji dengan niat untuk orang tua yang sudah meninggal (Diriwayatkan Ibnu Umar HR. Muttaqun ‘Alaih)
– Meng-qodlo shalat dan puasa dengan niat untuk orang tua yang sudah meninggal. (Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA)
– Menziarahi makamnya (HR. Muslim), jika mungkin tiap malam jum’ah atau kamis sore (HR. Ibnu ‘Adi dari Abu Bakar RA), jika tidak memungkinkan minimal setahun dua kali yakni menjelang Ramadhan atau nyadran dan akhir ramadhan atau nyekar.
– Melanjutkan tradisi-tradisi amal shalih orang tua.
– Melanjutkan tradisi silaturrahmi dengan keluarga dan sahabat orang tua, dll.