Puasa Membentuk Karakter

Bulan Ramadhan telah hadir kembali tahun ini (1433 H). Setidaknya ada empat tipe muslim menyambut hadirnya Ramadhan setiap tahun. Pertama, suka cita dan gembira menyambut hadirnya Ramadhan, karena ia merasakan kenikmatan beribadah di dalamnya. Kedua, mereka yang suka cita dan gembira menyambut hadirnya bulan Ramadhan, karena diuntungkan secara materi. Ketiga, merasa berat dan terbebani atas hadirnya Ramadhan. Keempat, kalangan yang biasa-biasa saja dalam menapaki Ramadhan.
Jika seseorang berusia 40 tahun, maka setidak-tidaknya telah melaksanakan puasa 27 bulan. Asumsinya adalah semenjak aqil baligh ia sudah puasa penuh. Pertanyaannya adalah: (1) apakah puasa yang sudah dilakukan sekian lama itu telah berdampak bagi pembentukan pribadi yang baik, atau belum; dan (2) pada tataran kolektif, apakah dampak berpuasa bagi bangsa ini sudah tampak nyata?
Pertanyaan pertama membutuhkan introspeksi atau muhasabah atas individu masing-masing. Jika seseorang berpuasa sementara pada saat yang sama ia juga melakukan perbuatan-perbuatan: :(1) kidzb atau berdusta; (2) ghibah wa al-namimah atau menggunjing dan mengadu domba; (3) nadlarun bi al-shahwah atau melihat dengan hawa nafsu; dan (4) yumna la bihaq atau bersumpah palsu, maka puasanya menjadi hampa makna.
Pertanyaan kedua membutuhkan muhasabah nasional. Jika bangsa ini terus berpuasa, namun perilaku kolektifnya masih belum menunjukkan karakter mulia, maka dapat dinyatakan puasanya masih belum sampai pada nilai yang sesungguhnya, yakni taqwa.
Pada tataran realitas, kita masih menjumpai moralitas individu maupun kolektif sebagai bangsa belum sesuai dengan harapan. Di sana sini masih dijumpai fenomena menurunnya karakter individu maupun bangsa. Menurut Megawangi (2009:21), indikatornya antara lain: (a) meningkatnya kekerasan di masyarakat; (b) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; (c) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan; (d) meningkatnya perilaku merusak diri; (e) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (f) menurunnya etos kerja; (g) semakin rendahnya rasa saling menghormati satu sama lain; (h) rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara; (i) membudayanya ketidakjujuran; dan (j) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.

Membangun Karakter
Membangun karakter individu dan masyarakat merupakan sebuah keharusan, karena hal itu merupakan bagian dari tugas kekhalifahan setiap muslim. Setiap muslim diperintahkan oleh agama untuk membangun karakter dengan cara ber-akhlaq al-karimah.
Tugas mulia Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan karakter mulia dilandasi rahmah atau kasih sayang. Beliau menyontohkan sendiri ajaran akhlak mulianya, dengan empat pilar: (1) shidiq; (2) amanah; (3) tabligh; dan (4) fathonah.
Karakter shidiq (benar) dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan perilaku yang sama antara perkataan dan tindakan. Sifat amanah (jujur) menjadi landasan utama gerak beliau dalam laku keseharian, sampai-sampai beliau mendapat julukan al-amin oleh suku Quraisy. Tabligh (akuntabel) merupakan karakter Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas kerasulannya. Sedangkan fathonah (cerdas) merupakan cerminan sikap kreatif dalam menjalankan tugas sebagai utusan Allah SWT.
Jika ditarik ke konsep kekinian, maka empat pilar karakter Nabi Muhammad SAW tersebut sangatlah relevan. Dalam literatur moderen karakter positif biasanya dicirikan dengan hal-hal berikut: (1) menghargai nilai normatif; (2) menumbuhkan rasa percaya diri; (3) kemandirian (4) keteguhan; dan (5) kreativitas.(Foester, 2012:2)

Ajaran Puasa
Ajaran puasa diturunkan kepada umat Nabi Muhamad SAW dan umat – umat sebelumnya supaya mereka mencapai derajat taqwa (Q.S. al-Baqarah: 183). Jika tujuan akhir dari perintah puasa adalah untuk mencapai ketaqwaan, maka tentu yang dimaksud bukan sekedar puasa untuk menahan lapar dan dahaga saja, namun juga puasa dalam arti mengendalikan hawa nafsu. Dengan kata lain, puasa yang dimaksudkan adalah mengendalikan diri dari sikap negatif, lalu masuk ke dalam sikap positif, seperti: jujur, disiplin, patuh pada aturan, etos kerja tinggi, dan solidaritas pada sesama.
1. Kejujuran
Orang puasa akan jujur pada diri sendiri bahwa ia sedang berpuasa. Tidak berani melanggar makan, minum, maupun hal lain yang membatalkan sungguhpun tidak ketahuan orang lain.
2. Disiplin
Puasa mengajari orang untuk berdisiplin saat mengakhiri sahur, memulai berbuka, serta hal-hal yang dilarang.
3. Kepatuhan
Setiap orang yang berpuasa pada hakekatnya patuh pada aturan Allah SWT. Jika ia tidak patuh tentulah ia memilih tidak berpuasa. Di dalamnya ada rasa takut melanggar aturan.
4. Etos Kerja
Puasa yang dilakukan sungguh-sungguh akan mendorong seseorang untuk menyadari bahwa kerja itu adalah ibadah. Kesadaran bahwa kerja itu merupakan ibadah akan memunculkan sikap bertanggungjawab atas setiap tindakannya dalam pekerjaan. Ia akan selalu berusaha meningkatkan profesionalismenya dalam bekerja. Ia takut kalau tidak maksimal dalam bekerja. Ia sadar bahwa ia tidak hanya sedang berurusan dengan atasannya atau pelanggannya semata, namun sedang berurusan (juga) dengan Allah SWT.
5. Solidaritas
Alur pikir sederhananya dapat dinyatakan bahwa jika seseorang disuruh menahan lapar dan dahaga sehari penuh, diharapkan akan tumbuh kesadaran dalam dirinya betapa orang yang kesulitan ekonomi, yang tiap hari lapar dan dahaga karena tidak memiliki kesempatan untuk makan yang semestinya, harus diperhatikan dan disantuni. Jika kesadaran ini muncul diharapkan bagi orang yang berpuasa tersebut akan bisa berbagi dengan orang lain terutama kaum dhuafa.

Itulah sebahagian mutiara-mutiara pendidikan karakter yang diajarkan dalam ibadah puasa. Selamat berpuasa, semoga menjadi pribadi yang berkarakter mulia, amin.

Salatiga, Ramadhan 1433 H
(Artikel ini pernah dimuat di Jawa Pos Radar Semarang Tahun 2012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *