Mengapa Kita Harus Bersandar Pada Pendapat Ulama

Muqaddimah

Pada sebuah halaqah muncul pertanyaan dari jamaah: “mana yang harus diikuti, Nabi Muhammad SAW, atau Imam Syafi’i, atau Hadharatus Syaikh Hasyim Asy’ariy?” Pertanyaan tersebut memiliki tiga kerancuan berfikir (untuk tidak dikatakan kesesatan berfikir).
Pertama, munasabah atas ketiga figur tersebut tidak pada tempatnya, karena ketiganya tidak dapat dihadapkan secara diametral. Nabi SAW, Imam Syafi’i, dan Syaikh Hasyim Asy’ari menempati maqam masing-masing, di mana yang sesudahnya menjadi penjabar dari ajaran atau tradisi sebelumnya. Kongkritnya, sunnah Nabi SAW, dipakai sebagai sandaran oleh Imam Syafi’i dalam ber-ijtihad, lalu hasil ijtihad Imam Syafi’i, dibumikan oleh Syeikh Hasyim As’ariy agar mudah dilaksanakan sesuai konteks Indonesia.
Kedua, mafhum mukhalafah dari pertanyaan tersebut menyiratkan pesan bahwa kita tidak perlu bersandar pada pendapat ulama tetapi harus langsung merujuk kepada sunnah Nabi SAW. Anggapan bahwa ilmu atau ajaran bisa sampai tanpa melalui tangga merupakan kekeliruan, karena setiap ilmu memerlukan tangga. Tangga ilmu diperlukan untuk pertanggungjawaban epistemologis mengenai kesahihan ilmu.
Ketiga, dari perspektif yang lebih luas, maka pertanyaan itu seolah hendak menegasikan tawadlu’ kita kepada ilmu dan orang-rang yang berilmu (‘ulama). Tentu ini bertentangan dengan semangat menjunjung tinggi keluhuran ilmu ulama sebagai pewaris para Nabi.

Tangga Keilmuan Islam
Sebagaimana sudah mafhum di kalangan umat Islam bahwa sumber utama ajaran Islam adalah: al-Qur’an, al-sunnah, dan ijtihad. Al-Qur’an diwahyukan Allah SWT kepada Nabi SAW sebagai pedoman kehidupan. Mayoritas muslim meyakini bahwa al-Qur’an baik lafadh maupun maknanya berasal dari Allah. (lafdhiyyan wa ma’nawiyan min Allah ‘azza wajalla). Sebahagian dari ayat al-Qur’an ada yang bersifat global, sebahagian lainnya ada yang rinci. Contoh ayat yang global antara lain perintah shalat. Al-Qur’an tidak merinci tata cara atau kaifiyyah shalat, maka Nabi SAW mengajarkan cara shalat untuk mengimplementasikan perintah tersebut. Sampai pada titik ini lalu muncul pertanyaan, apakah kita pernah melihat atau menerima pelajaran langsung dari Nabi SAW mengenai tata cara shalat? Tentu jawabannya tidak pernah. Secara tangga keilmuan kita dapat meyakini bahwa orang yang pernah melihat atau diberitahu oleh Nabi SAW tentang tata cara shalat adalah para sahabat langsung beliau. Tangga selanjutnya dari para sahabat turun ilmu tentang shalat itu kepada para tabi’in. Tabi’in adalah orang yang melihat atau diberi pelajaran shalat oleh para sahabat Nabi SAW. Sampai pada tangga ini umat Islam pada zaman sekarang ini belum dapat meng-klaim bahwa ia mendapatkan ilmu shalat dari tabi’in, karena tabi’in hidup pada zaman sekitar tahun 700 an Masehi. Dari tabi’in kita mendapati hadits tentang shalat yang sudah dipetik oleh tabi’ al-tabi’in (pengikut tabi’in). Pada tangga keempat inilah baru para ulama salaf al-shalih mengkodifikasi hadits Nabi SAW, lalu dilakukan takhrij oleh para ulama sesudahnya, bahkan sebahagiannya diberi syarkh atau keterangan. Dengan tangga epistemologi ilmu seperti itu maka mustahil kita meninggalkan pendapat atau pemahaman ulama tentang suatu masalah keagamaan. Jika ada diantara muslim pada zaman ini (apalagi awam soal ilmu agama) meng-klaim dapat memahami sunnah Rasul tanpa perantaraan ulama, maka hal itu sulit dipercaya, bahkan hal itu menunjukkan takabbur intelektual bahkan syirk intelektual.

Ijtihad Ulama
Disamping terdapat ayat-ayat global dan rinci, di dalam al-Qur’an juga dijumpai ayat-ayat yang jelas/qath’i atau sering disebut ayat-ayat muhkamat dan samar/dhanni atau mutasyabihat. Pada area ayat-ayat dhanni inilah ijtihad menemukan titik pentingnya. Tanpa ijtihad, maka sangat sulit kita memahami makna ayat al-Qur’an. Pertanyaannya apakah semua orang dapat ber-ijtihad dalam soal istimbat al-ahkam (pengambilan ketetapan hukum). Tentu tidak semua orang dapat istimbat al-ahkam. Ada syarat-syarat tertentu seseorang boleh berijtihad terutama dalam persoalan fiqh, yakni:(a) memiliki ilmu yang luas tentang ayat-ayat al-Qur’an; (b) berilmu luas mengenai hadits Nabi SAW; (c) menguasai masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma’; (d) menguasai secara mendalam masalah qiyas; (e) menguasai bahasa Arab secara mendalam; (f) menguasai nasikh-mansukh secara mendalam; (g) memahami asbab al-nuzul dan asbab al-wurud; (h) mengetahui sejarah para perawi hadits agar dapat melakukan takhrij dengan benar; (i) memiliki ilmu mantiq secara mendalam, dan (j) menguasai kaidah-kaidah istimbat al-ahkam.
Pertanyaan selanjutnya, apakah orang awam dapat memenuhi syarat-syarat di atas? Tentu belum. Yang memenuhi syarat-syarat tersebut adalah para ulama tertentu. Pada titik inilah lagi-lagi kita harus bersandar pada ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Maliki, ataupun Imam Hambali.
Sebagai contoh dapat diilustrasikan, kita dapat memahami enam rukun wudlu dengan cara bersandar kepada pendapat Imam Syafi’i. Jika kita tidak bersandar pada pendapat ulama, maka kita dimungkinkan hanya menemukan rukun wudlu itu empat perkara saja, yakni: membasuh muka sebagai rukun pertama, membasuh kedua tangan sampai siku sebagai rukun kedua, mengusap rambut kepala sebagai rukun ketiga, dan keempat membasuh kaki sampai mata kaki (Q.S. al-Maidah: 6). Ijtihad Imam Syafi’i mengajarkan kepada kita untuk memulai wudlu dengan niat sebagai rukun pertama, berdasar perintah Nabi SAW, innamal a’mau bi al-niyyah. Sementara rukun keenam yakni tertib, didasarkan pada perintah Nabi SAW, ibdauu bimaa badaallah (mulailah mengerjakan sesuatu dengan apa yang Allah dahulukan).

Ulama Indonesia
Mengapa kita harus bersandar pula pada ulama Indonesia, semisal Syaikh Nawawi al Bantani, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabauwi, dan Hadharatus Syeikh Hasyim Asy’ariy?
Dari uraian-uraian awal sesungguhnya telah cukup mafhum bahwa kita bersandar kepada para ulama (termasuk ulama Nusantara) karena kita harus menempatkan kesadaran tawadlu’ kita pada ilmu dan orang-orang yang berilmu. Disamping itu masalah pertanggungjawaban keilmuan berdasarkan sanad ilmu menjadi bagian tak terpisahkan dari keislaman seorang muslim.
Dengan menghormati dan mengikuti tradisi para ulama, sebenarnya telah mengikuti sunnah Nabi SAW, karena sunnah Nabi telah diwariskan kepada para ulama. Di tangan para ulama, ajaran Nabi SAW telah dibumikan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana Islam ada. Di tangan para ulama Nusantara, spirit Islam yang disunnahkan Nabi SAW, telah mampu menggerakkan jihad melawan kolonialisme dan meraih kemerdekaan menuju tatanan masyarakat yang baik.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah spirit Islam untuk membangun tatanan masyarakat madani (berperadaban tinggi) sebagaimana diajarkan Nabi SAW telah terwarisi oleh generasi muslim kekinian, atau malah sebaliknya, di mana faktanya sebahagian muslim sibuk atas nama ‘meluruskan aqidah’, tapi malah ‘merisaukan ukhuwwah’, dan kadang malah meruntuhkan peradaban. Mari kembali kepada ajakan mabadi’khaira ummah yang disampaikan oleh Hadharatus Syekh Hasyim Asy’ari, dan para ulama Nusantara lainnya dalam ber-Islam, yakni: tawashuth, tawazun, tatsamuh, dan i’tidal.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *