Topik Inti Matakuliah Agama Islam (STIE AMA Salatiga)

1. Pengantar Studi Islam
2. Sumber Ajaran Islam: Alqur’an, Sunnah, Ijtihad
3. Trilogi Ajaran Islam: Iman, Islam, Ihsan
4. Karakteristik Ajaran Islam
5. Prinsip-prinsip Islam tentang Ekonomi
6. Riba dan Bank dalam Pandangan Islam
7. Hukum Perkawinan dalam Islam
8. Berbakti Kepada Orang Tua
9. Islam dan Modernitas di Indonesia
10. Puasa Membentuk Pribadi Taqwa
11. Belajar Shalat Khusyu
12. Zakat Membentuk Insan Bersyukur
13. Haji dan Persaudaraan
14. Islam dan Isu-isu Kontemporer: HAM, Gender, Lingkungan Hidup

Islam Rahmatan lil ‘Alamien*

Iftitah
Alkisah, pada suatu malam Sahabat Umar meronda bersama Abdullah bin Mas’ud. Dari tempat yang agak jauh mereka melihat kerlipan cahaya dan mendengar sayup – sayup suara orang bersembunyi. Keduanya mengikuti arah suara itu dan sampailah mereka di sebuah rumah. Diam – diam Umar menyelinap masuk. Ia melihat seorang tua duduk sambil meneguk minuman keras, didampingi seorang wanita penghibur yang sedang bernyanyi. Umar menampakkan diri dan menghardik: “belum pernah aku melihat pemandangan seburuk yang aku lihat malam ini, seorang tua yang menanti ajalnya bermaksiyat”. Orang tua itu menjawab: “janganlah tergesa – gesa ya Amirul Mukminin, saya berbuat maksiyat hanya satu macam. Anda menentang Allah sampai tiga hal: pertama, Allah berfirman janganlah mengintip keburukan orang (al-Hujurat: 12). Anda telah mengintip. Kedua, masuklah kerumah – rumah dari pintunya (al-Baqarah: 189). Anda menyelinap masuk. Dan ketiga, anda sudah masuk kesini tanpa ijin. Padahal Allah berfirman, janganlah kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu minta ijin dan mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalamnya (an-Nur: 27)”. Umar berkata, “Kamu benar”. Maka keluarlah ia dari rumah itu seraya menyesali perbuatannya. (Jalaludin Rahmat, 1993: 106)
Kasus ini memberikan gambaran bahwa dalam tradisi Islam awal, telah terjadi proses bermasyarakat yang demokratis, dimana ada seorang rakyat yang berani mengingatkan pemimpinnya telah melakukan kesalahan karena melanggar tiga hak dasar manusia sekaligus: (1) hak kebebesan; (2) hak kehormatan; (3) hak milik. Yang patut dikagumi adalah sikap Khalifah Umar yang dengan ‘legowo’ segera menyadari kekeliruannya.
Tradisi semacam ini dilanjutkan oleh generasi – generasi muslim berikutnya. Sahabat Ali misalnya ketika melantik Gubernur Mesir Malik Asytar al-Nakha’iy berpidato agar memenuhi hak – hak masyarakat dengan baik, terutama kaum dhu’afa’. Ali berkata: ” orang – orang lemah dan miskin harus dibantu dan disantuni. Allah Maha Mencukupi mereka semua dan mereka pun memiliki haknya masing – masing yang harus dipenuhi oleh wali negeri akan kebutuhannya.” (al-Baqir, 1991: 102).
Singkat kata, dalam tradisi Islam, telah berlangsung praktik – praktik Islam rahmatan li-al’alamien, yang didalamnya terdapat beberapa penekanan: (1) semangat pembebasan, yakni membebaskan manusia dari kemusyrikan dan penindasan; (2) menciptakan keadilan sosial; (3) memperkuat demokrasi; (4) memperkokoh sikap tasamuh; (5) memperjuangkan hak asasi manusia; (6) melaksanakan perdamaian; dan (7) melestarikan lingkungan.

Islam Melakukan Pembebasan
Alqur’an merupakan wahyu Alah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw di jazirah Arab. Penduduk jazirah Arab di mana Alqur’an diturunkan saat itu dikenal sebagai masyarakat jahiliyah. Dalam masyarakat jahiliyah terdapat situasi dan sejarah ketertindasan manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat jahiliyah diabaikan dan tidak bisa berkembang dengan baik. Menurut KH. Mahfudh Ridwan (2004:25), ciri – ciri masyarakat jahiliyah ditandai dengan: (1) terjadinya praktik perbudakan sesama manusia; (2) diskriminasi terhadap perempuan dan manusia karena perbedaan warna kulit tertentu; (3) monopoli perdagangan yang menyebabkan ketidakadilan distribusi ekonomi; dan (4) konflik antar suku yang menempatkan kaum perempuan dan anak-anak sebagai korban utama peperangan.
Dalam konteks historis semacam inilah Islam hadir dengan rahmat (kasih sayang), membebaskan manusia dari perbudakan, diskriminasi, ketidakadilan, diskriminasi jenis kelamin, etnis dan warna kulit (QS. Al-Hujurat, 49:13). Nabi Muhammad saw. berjuang melakukan pembebasan terhadap belenggu tradisi jahiliyah yang tidak menghargai martabat manusia secara baik. Nabi Muhammad berjuang menegakkan masyarakat yang damai, penuh kasih, persaudaraan dan egaliter.
Sebagaimana dimaklumi bahwa para Nabi terdahulu juga melakukan gerakan pembebasan terhadap realitas sosial masyarakat yang tertindas, tidak adil. Ibrahim melakukan pembebasan terhadap tradisi – tradisi buta penyembahan berhala. Musa melakukan perjuangan pembebasan masyarakat melawan otoritarianisme Raja Fir’aun. Isa melakukan perlawanan untuk membebaskan manusia dari dominasi materialisme atas ruh.
Alqur’an menegaskan bahwa risalah kenabian adalah memberantas dekadensi moral dan sosial. Gerak kenabian di dalam sejarah selalu merupakan gerak progresif bagi kemanusiaan dalam dimensi keyakinan dan moralitas manusia. Dengan demikian tidak ada nabi yang tidak memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan menuju taraf yang lebih tinggi.
Menurut informasi Alqur’an, Islam adalah agama ketuhanan sekaligus agama kemanusiaan dan kemasyarakatan (QS. Ali Imran, 3:112). Ayat – ayat Alqur’an sebagian mengajarkan bagaimana cara berhubungan baik dengan Tuhan (habl min Allah), sebagian yang lain mengatur aspek – aspek kemanusiaan dan kemasyarakatan (habl min al-nas). Fazlur Rahman (1987:49) berkesimpulan bahwa elan dasar Islam yang tertuang dalam Alqur’an adalah moral yang memancarkan titik beratnya pada monotheisme dan keadilan sosial.
Penelitian yang dilakukan Jalaluddin Rahmat (1991:48-51) terhadap Alqur’an sebagai inti ajaran Islam menyimpulkan empat hal yang bertemakan kepedulian Alqur’an yang lebih tinggi kepada persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Pertama, dalam Alqur’an proporsi terbesar ditujukan kepada urusan kemanusiaan. Kedua, dalam kenyataan bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah, maka ibadah boleh diperpendek (qashr) atau ditangguhkan (jama’). Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyararakatan diberi ganjaran yang lebih besar daripada ibadah yang bersifat perorangan. Keempat, bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal karena melangar peraturan tertentu, maka dendanya kifaratnya (dendanya) adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
Dalam pandangan Islam, manusia mempunyai dua kapasitas yakni sebagai hamba (’abdullah) dan sebagai representasi Tuhan (khalifatullah). Konsekuensinya ia dituntut untuk memiliki kualitas kesalehan sebagai ’abdullah maupun sebagai khalifatullah. Manifestasi dari kesalehan sebagai hamba mewujud dalam kesalehan individual, kesalehan sebagai hamba mewujud dalam kesalehan sosial. Alqur’an menyatakan bahwa kesalehan tidak cukup dilakukan hanya dengan penyucian diri (riyadlah al-nafs) tetapi harus terefleksikan dalam sikap kepedulian terhadap penderitaan orang lain, terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan manusia satu atas manusia lainnya (QS, Al Ma’un, 107:1-7).
Menurut Hassan Hanafiy (1993: 129), jalan untuk mencapai kesalehan sosial antara lain dengan dimanifestasikan keadilan sosial dikalangan umat Islam dan menciptakan masyarakat yang egaliter, menghilangkan hegemoni dari pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah baik secara sosial, ekonomi paupun politik. Jalan lainnya adalah dengan menegakkan masyarakat yang bebas dan demokratis, dimana setiap individu berhak mengungkapkan pendapat, menyuarakan kritik dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Meluruskan Pemahaman Tauhid
Tauhid merupakan inti ajaran Islam. Secara asal tauhid merupakan masdar dari kata wahhada yang berarti menegaskan, membuat jadi satu, dan menyatukan. Secara istilah tauhid kemudian bermakna sikap mengesakan Allah dari segala bentuk kemusyrikan. Dari makna ini akan didapati unsur – unsur dalam tauhid adalah Tuhan (Ketuhanan), manusia (kemanusiaan) dan interaksi (penyatuan). Oleh karena itu jalan bertauhid adalah dengan penyatuan manusia terhadap Tuhan, mengingat cakupan tauhid itu adalah bidang kemanusiaan dan Ketuhanan (Simogaki, 1994: 17).
Menurut Muslim Abdurrahman (2005:3) tauhid tidaklah semata-mata konsep teologis yang vertikal tetapi juga moralitas yang paling dasar untuk membangun kesadaran bahwa ketidakadilan ekonomi, penindasan dan kesewenang-wenangan merupakan ancaman kemanusiaan yang serius. Dengan kata lain tauhid juga mengandung unsur kemanusiaan yang dalam. Tauhid menembus batas-batas kemanusiaan manusia. Dalam tauhid terkandung makna penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. Manusia tidak boleh dibeda – bedakan penghormatan harkat kemanusiaannya antara kaya-miskin, maju-terbelakang, Barat-non Barat, dan lain-lain.
Hassan Hanafiy (1980:2) menjelaskan bahwa tauhid membawa implikasi pada dua hal: pertama, penerimaan (acceptance) terhadap hal – hal yang bersesuaian dengan dimensi-dimensi ketuhanan dan kemanusiaan; dan kedua, penolakan (rejection) terhadap hal – hal yang berlawanan dengan dimensi – dimensi ketuhanan dan kemanusiaan seperti diskriminasi rasial, etnosentrisme dan egoisme.
Tauhid hendaklah dimaknakan sebagai upaya untuk menyelamatkan manusia baik individu maupun sosial. Jika penguatan pemahaman tauhid ini dilakukan, maka tauhid bisa dipakai sebagai landasan etik dan moral bagi upaya perjuangan sosial untuk menegakkan demokrasi, menentang ketidakadilan, menentang diskriminasi dan melakukan upaya membebaskan manusia dari belenggu penindasan sosial, politik maupun ekonomi. Singkat kata tauhid bisa dipakai sebagai landasan untuk menegakkan keadilan, demokrasi, toleransi dan hak asasi manusia. Inilah inti ajaran Islam yang membebaskan.

Menciptakan Keadilan Sosial
Islam memerintahkan umatnya untuk menegakkan keadilan sosial. Karena secara jelas Alqur’an mengklaim orang yang tidak mau menegakkan keadilan sosial sebagai pendusta agama dan dihukum berat oleh Tuhan (QS, Al Ma’un, 107:1-7).
Nabi Muhammad saw. diperintahkan oleh Allah untuk membangun keadilan diantara umat manusia (QS, As Syura: 15). Oleh karena itu Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa untuk mencapai derajat taqwa seseorang harus memperjuangkan keadilan sosial, karena keadilan itu dekat sekali dan merupakan essensi taqwa (i’dilu huwa aqrabu li al taqwa).
Dalam Islam, keadilan sosial adalah motivasi keagamaan yang essensial sekaligus dasar moral bagi suatu susunan masyarakat (Boigard, :142) Dengan kata lain élan dasar dari moral Alqur’an adalah keadilan social.
Jalan untuk memperjuangkan keadilan social dapat dilakukan dengan melakukan perbuatan ihsan atau kebaikan yang berpihak kepada kaum yang tertindas dan lemah. Implementasi dari model keperpihakan ini dapat diwujudkan misalnya dengan melakukan pendidikan yang berpihak kepada kaum mustad’afin, melakukan penguatan ekonomi masyarakat yang termiskinkan oleh struktur ekonomi neokapitalisme, dan seterusnya.

Memperkuat Demokrasi
Demokrasi secara umum dimakanakan sebagai prosrs interaksi antar manusia yang diletakkan diatas dasar pegakuan kesamaan martabat manusia dan penghormatan terhadap hak partisipasi setiap individu dalam pengambilan keputusan – keputusan publik.
Dalam Alqur’an banyak dijumpai ayat – ayat yang menerangkan konsep kesamaan martabat manusia dan prinsip – prinsip musyawarah dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan publik, misalnya QS al-Nisa’: 36, al-Nur: 33, dan al-Nahl:71. Pengingkaran terhadap nilai – nilai demokrasi dalam konteks ini berarti penngingkaran terhadap essensi ajaran Alqur’an. Maka membangun sebuah negara yang demokratis menjadi tanggungjawab bersama setiap muslim. Dalam kaitan ini menegakkan kaidah – kaidah demokrasi seperti yang diajarkan Alqur’an harus dilakukan pada setiap tatanan kehidupan masyarakat, baik di kampus, di pemerintahan maupun di organisasi kemasyarakatan.
Ajaran menegakkan demokrasi ini juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Dalam khutbah haji wada’ Nabi memperingatkan kesamaan manusia dihadapat Allah dengan menyatakan bahwa sahaya-sahaya itu adalah manusia yang sama derajatnya dengan sahabat lainnya (Thabbarah, 1993:54). Lebih lanjut Nabi mengajarkan melalui Alqur’an yang diturunkan kepadanya bahwa pembedaan derajat seseorang dihadapan Tuhan adalah dalam hal ketaqwaannya, inna akramakum indallahi atqakum (QS, Al Hujurat, 49:13).

Memperkokoh Sikap Tasamuh
Islam adalah agama yang mengakui adanya kemajemukan. Islam mengajarkan untuk menghargai perbedaan jenis kelamin, suku, bangsa bahkan agama. Oleh karena itu Islam mengajarkan sikap toleransi (tasamuh). Bentuk – bentuk toleransi yang diajarkan oleh Islam antara lain tidak ada paksaan dalam memilih agama (la ikraha fi al-din), kebolehan makan hewan sembelihan ahl al kitab, dan lain – lain (Thabbarah, 1993:425).
Nabi Muhammad saw sebagai sosok teladan memberikan contoh sikap toleransi ini secara nyata. Contoh sikap toleransi ini tercermin dalam Konstitusi Madinah yang antara lain berisi pengakuan bahwa antara orang – orang Islam dan orang – orang Yahudi Madinah adalah umat yang satu dan bangsa yang satu (Al Jabiriy, 1991: 93).
Jika pemahaman toleransi ini dibawa ke wilayah yang lebih jauh maka umat Islam mempunyai tanggungjawab untuk menghindari konflik atas nama agama. Agama apapun tidak membenarkan konflik, kekerasan dan peperangan atas nama agama. Islam dalam hal ini harus menjadi perekat komunitas manusia, bukan sebaliknya dipakai untuk melegitimasi kekerasan dan peperangan atas umat lain atau atas sesama muslim.
Bentuk – bentuk perilaku sebagai elaborasi dari pemahaman Islam toleran ini antara lain dengan melakukan kegiatan bersama untuk mengatasi persoalan – persoalan kemanusiaan secara bersama. Hal yang terakhir ini merupakan salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk mengeliminasi resistensi konflik horisontal antar umat beragama.

Memperjuangkan Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia adalah hak – hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia yang hidup di muka bumi ini. Setiap manusi yang lahir secara langsung dia memiliki hak – hak dasar yang tidak boleh dilanggar oleh orang lain, seperti hak hidup, hak mendapatkan penghidupan, hak mendapatkan perlindungan. Negara dalam konteks ini mempunyai tanggungjawab untuk menjamin terpenuhinya hak asasi ini.
Dalam Islam penghargaan terhadap hak asasi manusia dapat dilihat secara nyata pada tujuan penetapan syariat (maqashid al-syari’ah) yakni melindungi jiwa (nafs), harta (maal), keturunan (nasab), akal pikiran (’aql) dan keyakinan (dien). Islam memberi pengakuan dan jaminan atas hak – hak dasar manusia tersebut. Pengakuan atas hak tersebut dapat dilihat secara nyata misalnya pada QS al- Nahl:71, QS, al-Kafirun: 6, dan lain – lain.
Penguatan HAM dalam Islam harus dilakukan oleh setiap individu muslim, karena itu tidak diperbolehkan praktik – paraktik penindasan manusia satu terhadap manusia lainnya, kaum satu terhadap kaum lainnya. Perlawanan terhadap penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya apapun agamanya erupakan semangat dari Islam Yang Membebaskan. Yang perlu digarisbawahi disini adalah bahwa perjuangan HAM harus diletakkan dalam konteks kejujuran, keadilan dan solidaritas kemanusiaan sehingga menimbulkan suatu tata pergaulan masyarakat berskala lokal, nasional maupun nternasional yang baik diatas landasan saling menghormati satu sama lain.
Implementasi dari penguatan kesadaran HAM ini akan melahirkan sebuah tatanan masyarakat dunia yang damai tanpa kekerasan dan peperangan. Inilah salah satu dari inti ajaran Islam yakni membebaskan manusia dari kekerasan, peperangan, dan penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah.

Menegakkan Perdamaian
Kehidupan dunia yang penuh kasih sayang, perdamaian dan kerukunan merupakan dambaan setiap manusia. Nabi Muhammad saw diutus untuk memerangi kemusyrikan, perbudakan, penindasan ketimpangan sosial ekonomi. Singkat kata Islam hadir untuk menjadi rahmat bagi kehidupal, rahmatan li al-’alamin. Itulah misi utama mengapa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah menjadi rasul-Nya, menyerukan ajaran-Nya kepada seluruh alam.
Misi perdamaian dalam ajaran Islam harus ditegakkan dan diperjuangkan dengan cara menghentikan segala bentuk kekerasan dan peperangan serta membangun sebuah solidaritas masyarakat bersama untuk anti kekerasan dan anti peperangan.
Dalam dataran kenyataan agama sering dipolitisir oleh beberapa pihak untuk kepentingan kelompok agama tertentu. Akibatnya kekerasan dan peperangan sering dicarikan argumen tologis. Politisasi agama semacam ini tentu harus dihindari oleh muslim karena bertentangan dengan prinsip – prinsip dasar Islam sebagai agama perdamaian untuk manusia.
Ajaran Islam pembebasan yang dibawa Nabi Muhammd bermuara pada suatu tauhid yang membebaskan, menebarkan kasih sayang dan menegakkan perdamaian (peace making). Tetapi pada dataran realitas mengapa banyak orang yang mengobarkan kerusuhan, kekerasan bahkan peperangan atas nama agama.

Melestarikan Lingkungan
Elaborasi dari konsep Islam rahmatan li-al’alamien, adalah kewajiban setiap muslim menjaga kelestarian lingkungan. Lingkungan merupakan amanat Allah yang diberikan kepada manusia untuk mengelolanya. Pengelolaan sumber daya alam hendaknya dilakukan dengan kesadaran teologis bahwa perilaku melestarikan lingkungan merupakan bahagian dari ibadah. Oleh karenanya dalam melakukan pengelolaan sumber daya alam hendaklah diperhatikan faktor kemanfaatan, keberlangsungan, maupun kelestarian. Faktor kemanfaatan menyangkut aspek kemaslahatan bagi umat manusia dalam kehidupan. Dalam memanfaatkan alam ini harus diperhatikan pula faktor kelestarian, dengan tidak merusak dan menghancurkan keberlangsungan dan keseimbangan ekosistemnya. Harus diyakini bahwa alam ini diciptakan oleh Allah bukan untuk generasi kita saja, tetapi juga untuk generasi anak cucu yang akan datang.

Catatan Akhir
Islam merupakan rahmat bagi Alam (rahmatan li al-’alamien). Datangnya syari’at Islam dimaksudkan untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam dengan memberikan perlindungan secara selaras terhadap hak – hak individu dan masyarakat, maupun terhadap lingkungan alam. Implementasi konsep ini mewujud dalam perilaku muslim untuk menghargai harkat dan martabat manusia, menjunjung tinggi nilai – nilai keadilan, demokrasi, toleransi, perdamaian dan hak asasi manusia serta melestarikan lingkungan.

* Tulisan pernah dipresentasikan di OPAK mahasiswa STAIN Salatiga

Menuju IAIN Salatiga

Jumat, 27 September 2013, Tim STAIN Salatiga mempresentasikan proposal alih status di hadapan Tim Penilai dan Kasubdit Kelembagaan Diktis Kemenag RI. Kegiatan dilaksanakan di Hotel Accasia Jakarta, dimulai pukul 08.00 WIB, selesai pukul 11.00 WIB. Tim Presentasi dipimpin oleh Ketua, Dr. Imam Sutomo, anggota: Miftahuddin, Rahmat Hariyadi, dan Zakiyudin. Seusai presentasi, Kasubdit Kelembagaan menyampaiakan bahwa ada hal menggembirakan mengenai perkembangan STAIN dalam lima tahun terakhir ini. Tim Penilai diketuai oleh Prof. Atho Mudzar. Atho menyampaikan pandangan umum senada dengan Ksubdit bahwa perkembangan STAIN cukup menggembirakan. Secara umum kurang guru besar, dan karakteristik visi kurang menerapkan “outforward looking”. Acara ditutup oleh Kasubdit dengan closing statement harapan untuk maju bersama dan segera dapat ditindaklanjuti.

Mengapa Kita Harus Bersandar Pada Pendapat Ulama

Muqaddimah

Pada sebuah halaqah muncul pertanyaan dari jamaah: “mana yang harus diikuti, Nabi Muhammad SAW, atau Imam Syafi’i, atau Hadharatus Syaikh Hasyim Asy’ariy?” Pertanyaan tersebut memiliki tiga kerancuan berfikir (untuk tidak dikatakan kesesatan berfikir).
Pertama, munasabah atas ketiga figur tersebut tidak pada tempatnya, karena ketiganya tidak dapat dihadapkan secara diametral. Nabi SAW, Imam Syafi’i, dan Syaikh Hasyim Asy’ari menempati maqam masing-masing, di mana yang sesudahnya menjadi penjabar dari ajaran atau tradisi sebelumnya. Kongkritnya, sunnah Nabi SAW, dipakai sebagai sandaran oleh Imam Syafi’i dalam ber-ijtihad, lalu hasil ijtihad Imam Syafi’i, dibumikan oleh Syeikh Hasyim As’ariy agar mudah dilaksanakan sesuai konteks Indonesia.
Kedua, mafhum mukhalafah dari pertanyaan tersebut menyiratkan pesan bahwa kita tidak perlu bersandar pada pendapat ulama tetapi harus langsung merujuk kepada sunnah Nabi SAW. Anggapan bahwa ilmu atau ajaran bisa sampai tanpa melalui tangga merupakan kekeliruan, karena setiap ilmu memerlukan tangga. Tangga ilmu diperlukan untuk pertanggungjawaban epistemologis mengenai kesahihan ilmu.
Ketiga, dari perspektif yang lebih luas, maka pertanyaan itu seolah hendak menegasikan tawadlu’ kita kepada ilmu dan orang-rang yang berilmu (‘ulama). Tentu ini bertentangan dengan semangat menjunjung tinggi keluhuran ilmu ulama sebagai pewaris para Nabi.

Tangga Keilmuan Islam
Sebagaimana sudah mafhum di kalangan umat Islam bahwa sumber utama ajaran Islam adalah: al-Qur’an, al-sunnah, dan ijtihad. Al-Qur’an diwahyukan Allah SWT kepada Nabi SAW sebagai pedoman kehidupan. Mayoritas muslim meyakini bahwa al-Qur’an baik lafadh maupun maknanya berasal dari Allah. (lafdhiyyan wa ma’nawiyan min Allah ‘azza wajalla). Sebahagian dari ayat al-Qur’an ada yang bersifat global, sebahagian lainnya ada yang rinci. Contoh ayat yang global antara lain perintah shalat. Al-Qur’an tidak merinci tata cara atau kaifiyyah shalat, maka Nabi SAW mengajarkan cara shalat untuk mengimplementasikan perintah tersebut. Sampai pada titik ini lalu muncul pertanyaan, apakah kita pernah melihat atau menerima pelajaran langsung dari Nabi SAW mengenai tata cara shalat? Tentu jawabannya tidak pernah. Secara tangga keilmuan kita dapat meyakini bahwa orang yang pernah melihat atau diberitahu oleh Nabi SAW tentang tata cara shalat adalah para sahabat langsung beliau. Tangga selanjutnya dari para sahabat turun ilmu tentang shalat itu kepada para tabi’in. Tabi’in adalah orang yang melihat atau diberi pelajaran shalat oleh para sahabat Nabi SAW. Sampai pada tangga ini umat Islam pada zaman sekarang ini belum dapat meng-klaim bahwa ia mendapatkan ilmu shalat dari tabi’in, karena tabi’in hidup pada zaman sekitar tahun 700 an Masehi. Dari tabi’in kita mendapati hadits tentang shalat yang sudah dipetik oleh tabi’ al-tabi’in (pengikut tabi’in). Pada tangga keempat inilah baru para ulama salaf al-shalih mengkodifikasi hadits Nabi SAW, lalu dilakukan takhrij oleh para ulama sesudahnya, bahkan sebahagiannya diberi syarkh atau keterangan. Dengan tangga epistemologi ilmu seperti itu maka mustahil kita meninggalkan pendapat atau pemahaman ulama tentang suatu masalah keagamaan. Jika ada diantara muslim pada zaman ini (apalagi awam soal ilmu agama) meng-klaim dapat memahami sunnah Rasul tanpa perantaraan ulama, maka hal itu sulit dipercaya, bahkan hal itu menunjukkan takabbur intelektual bahkan syirk intelektual.

Ijtihad Ulama
Disamping terdapat ayat-ayat global dan rinci, di dalam al-Qur’an juga dijumpai ayat-ayat yang jelas/qath’i atau sering disebut ayat-ayat muhkamat dan samar/dhanni atau mutasyabihat. Pada area ayat-ayat dhanni inilah ijtihad menemukan titik pentingnya. Tanpa ijtihad, maka sangat sulit kita memahami makna ayat al-Qur’an. Pertanyaannya apakah semua orang dapat ber-ijtihad dalam soal istimbat al-ahkam (pengambilan ketetapan hukum). Tentu tidak semua orang dapat istimbat al-ahkam. Ada syarat-syarat tertentu seseorang boleh berijtihad terutama dalam persoalan fiqh, yakni:(a) memiliki ilmu yang luas tentang ayat-ayat al-Qur’an; (b) berilmu luas mengenai hadits Nabi SAW; (c) menguasai masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma’; (d) menguasai secara mendalam masalah qiyas; (e) menguasai bahasa Arab secara mendalam; (f) menguasai nasikh-mansukh secara mendalam; (g) memahami asbab al-nuzul dan asbab al-wurud; (h) mengetahui sejarah para perawi hadits agar dapat melakukan takhrij dengan benar; (i) memiliki ilmu mantiq secara mendalam, dan (j) menguasai kaidah-kaidah istimbat al-ahkam.
Pertanyaan selanjutnya, apakah orang awam dapat memenuhi syarat-syarat di atas? Tentu belum. Yang memenuhi syarat-syarat tersebut adalah para ulama tertentu. Pada titik inilah lagi-lagi kita harus bersandar pada ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Maliki, ataupun Imam Hambali.
Sebagai contoh dapat diilustrasikan, kita dapat memahami enam rukun wudlu dengan cara bersandar kepada pendapat Imam Syafi’i. Jika kita tidak bersandar pada pendapat ulama, maka kita dimungkinkan hanya menemukan rukun wudlu itu empat perkara saja, yakni: membasuh muka sebagai rukun pertama, membasuh kedua tangan sampai siku sebagai rukun kedua, mengusap rambut kepala sebagai rukun ketiga, dan keempat membasuh kaki sampai mata kaki (Q.S. al-Maidah: 6). Ijtihad Imam Syafi’i mengajarkan kepada kita untuk memulai wudlu dengan niat sebagai rukun pertama, berdasar perintah Nabi SAW, innamal a’mau bi al-niyyah. Sementara rukun keenam yakni tertib, didasarkan pada perintah Nabi SAW, ibdauu bimaa badaallah (mulailah mengerjakan sesuatu dengan apa yang Allah dahulukan).

Ulama Indonesia
Mengapa kita harus bersandar pula pada ulama Indonesia, semisal Syaikh Nawawi al Bantani, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabauwi, dan Hadharatus Syeikh Hasyim Asy’ariy?
Dari uraian-uraian awal sesungguhnya telah cukup mafhum bahwa kita bersandar kepada para ulama (termasuk ulama Nusantara) karena kita harus menempatkan kesadaran tawadlu’ kita pada ilmu dan orang-orang yang berilmu. Disamping itu masalah pertanggungjawaban keilmuan berdasarkan sanad ilmu menjadi bagian tak terpisahkan dari keislaman seorang muslim.
Dengan menghormati dan mengikuti tradisi para ulama, sebenarnya telah mengikuti sunnah Nabi SAW, karena sunnah Nabi telah diwariskan kepada para ulama. Di tangan para ulama, ajaran Nabi SAW telah dibumikan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana Islam ada. Di tangan para ulama Nusantara, spirit Islam yang disunnahkan Nabi SAW, telah mampu menggerakkan jihad melawan kolonialisme dan meraih kemerdekaan menuju tatanan masyarakat yang baik.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah spirit Islam untuk membangun tatanan masyarakat madani (berperadaban tinggi) sebagaimana diajarkan Nabi SAW telah terwarisi oleh generasi muslim kekinian, atau malah sebaliknya, di mana faktanya sebahagian muslim sibuk atas nama ‘meluruskan aqidah’, tapi malah ‘merisaukan ukhuwwah’, dan kadang malah meruntuhkan peradaban. Mari kembali kepada ajakan mabadi’khaira ummah yang disampaikan oleh Hadharatus Syekh Hasyim Asy’ari, dan para ulama Nusantara lainnya dalam ber-Islam, yakni: tawashuth, tawazun, tatsamuh, dan i’tidal.

Wallahu a’lam.

Curriculum As A Discipline (The Material of Curriculum Development Subject)

The Characteristics of a Discipline:
(1) Principles. Any discipline worthy of study has an organized set of theoritical constructs or principles that govern it;
(2) Knowledge and Skills. Any discipline encompasses a body of knowledge and skills pertinent to that discipline;
(3) Theoriticians and Practitioners. A discipline has its theoriticians and it practitioners.

from Peter F. Oliva (1982:14-18)

Interpretations of Curriculum (The Material of Curriculum Development’s Class)

Curriculum is:

  •  that which is taught in school
  •  a set of subjects
  •  content
  •  a program of studies
  •  a set of materials
  •  a sequence of courses
  •  a set of performance objectives
  • a cuorse of studies
  • everything that goes on with in the school, including extraclass activities, guidance, and interpersonal relationships.
  • that wich is taugh both inside and outside of school directed by the school.
  • everything that is planned by school personnel.
  • a series of experiences undergone by leaners in school.
  • that which an individual learner experiences as a result of schooling.

(Peter F. Oliva, 1982, Developing the Curriculum, Little, Brown and Company, Boston, p. 5-6)

§UUSPN: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.