Memaknai Zakat Fitrah

 Iftitah

Setiap akhir ramadhan umat Islam melaksanakan kewajiban mengeluarkan zakat al-nafs atau lazim dikenal dengan zakat fitrah. Banyak ragam dalam pelaksanaannya, ada yang melalui ‘amil atau panitia zakat, ada pula yang dibagikan secara langsung. Begitupun jenisnya juga bervariasi, ada yang berupa uang atau makanan pokok.

Menurut ketentuan fiqh, waktu dikeluarkannya zakat fitrah adalah semenjak awal Ramadhan sampai menjelang pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri dimulai (Kifayatul Akhyar, tt.: 192). Ini dimaksudkan agar semua muslim bersuka cita menyambut hari raya tanpa kecuali. Diharapkan jangan ada yang kekurangan makanan saat lebaran. Dengan pemberian zakat fitrah diharapkan ada perlindungan bagi orang yang sangat membutuhkan yakni fakir dan miskin.

Namun dalam dataran realitas menurut survei penulis, sering dijumpai pelaksanaan zakat fitrah yang cenderung hanya sekedar melaksanakan formalitas fiqh bahkan rutinitas belaka, tanpa dibingkai dalam semangat keberpihakan pada kaum yang kurang mampu. Misalnya ada yang memberikan porsi terbesar dari jumlah yang terkumpul kepada pembangunan musholla atau bahkan ‘amil. Tentu ini bertentangan dengan spirit ajaran zakat fitrah.

 

Spirit Ajaran

          Tujuan penetapan syariat dalam Islam secara umum adalah melindungi dan memberikan kesejahteraan umat manusia, terutama bagi kaum yang kurang mampu. Argumen mengapa kaum dhu’afa lebih ditekankan dalam ajaran Islam, karena spirit ajaran Islam adalah menciptakan tatanan yang adil bagi harkat dan martabat kemanusiaan (Moeslim Abdurrahman, 2005: 9).

Zakat fitrah dapat menjadi salah satu sarana efektif penopang ekonomi kaum kurang mampu jika dikekola secara baik berdasarkan prinsip kemaslahatan yang lebih luas. Misalnya dihimpun melalui sebuah lembaga yang profesional dan kredibel, lalu disusun program pengentasan kemiskinan secara sistematis menggunakan dana zakat fitrah tersebut.

Wacana ini tentu mengundang keberatan karena akan berbenturan dengan tekstualitas fiqh yang sudah lazim berlaku di kalangan muslim. Pertama, dalam hampir semua literatur fiqh mewajibkan uang atau makanan pokok yang terkumpul harus dibagi habis kepada delapan ashnaf atau yang berhak menerima, sebelum shalat ‘Id dimulai. Kedua, soal keterwakilan delapan kategori ashnaf yang harus mendapat bagian.  Ketiga, dari sisi takaran atau jumlah yang harus dikeluarkan fiqh memberi ketentuan satu sha’ ( setara 3,1 liter).

 

Reaktualisasi Fiqh

          Perdebatan mengenai reaktualisasi fiqh telah menyejarah dalam tradisi Islam, bahkan sejak zaman para sahabat. Menurut hemat penulis perdebatan fiqh dalam masa kontemporer sekarang ini harus lebih ditekankan pada upaya semakin mendekatkan Islam bagi kesejahteraan umat manusia, bukan justru malah menjauhkan nilai-nilai ajaran Islam dari persoalan kemanusiaan. Dengan kata lain ajaran Islam harus dipahami sebagai ideologi kehidupan (ideological of life) untuk menyejahterakan umat.

Sampai pada tataran ini agaknya gagasan reaktualisasi fiqh tentang zakat fitrah menemukan argumentasi teologisnya. Misalnya tentang takaran zakat fitrah. Secara tekstual, Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar RA. sebagai berikut: “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ (3,1 liter) kurma atau gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, baik laki-laki maupun perempuan, baik kecil maupun tua dari kalangan kaum muslimin; dan beliau menyuruh agar dikeluarkan sebelum pergi ke tempat shalat Idul Fitri” (HR. Muttafaqun ‘Alaih, dalam Muslim II: 277 no. 279).

Jika dipahami secara harfiah maka takaran 3,1 liter itu merupakan jumlah yang sudah tetap dan pasti. Namun jika ditinjau lebih mendalam muncul pertanyaan mengapa Rasulullah menetapkan 3,1 liter, tentu ada argumen tersembunyi yang tidak dinyatakan dalam teks. Menurut analisis historis-kritis, mengapa Rasulullah SAW menetapkan 3,1 liter karena nominal rata-rata yang dimakan oleh para sahabat saat itu 3,1 liter. Dari sini muncul pertanyaan bagaimana kalau ada seorang konglomerat yang rata-rata tiap harinya makan senilai 500 ribu rupiah, apakah nominal zakat fitrahnya sama dengan seorang pekerja bangunan yang hanya makan 5 ribu rupiah setiap harinya? Jika alur pikir ini digunakan, agaknya cita-cita zakat bagi kemanusiaan dapat direalisasikan (Nurcholis Madjid, 2000: 155).

Dari perspektif substansi ajaran fiqh dan kemaslahatan umat rethingking seperti itu perlu diwacanakan kembali. Tentu semangatnya adalah bagaimana menjadikan ajaran zakat fitrah lebih bermanfaat. Wallahu a’lam.

*Artikel ini pernah dimuat di Radar Semarang Jawa Pos Tahun 2012

Daftar Pustaka

Abdurrahman, Moeslim, Islam Yang Memihak, LKiS, Yogyakarta, 2005

Al-Hasaniy, Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad, Kiafayatul

                       Akhyar Juz I,  Toha Putra, Semarang, tt.

Madjid, Nurkholis, Puasa Titian Menuju Rayyan, Pustaka Pelajar,

Yogyakarta, 2000

Muslim II: 277 no. 279

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *