Saleh Individual dan Saleh Sosial

Alkisah, ada seorang jamaah pengajian bertanya kepada ustadz bagaimana hukumnya seseorang yang sedang berpuasa kemudian ia melakukan ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba), apakah puasanya batal. Dengan argumen hadits ustadz menjawab bahwa perbuatan – perbuatan :(1) kidzb; (2) ghibah wa al-namimah; (3) nadlarun bi al-shahwah; dan (4) yumna la bihaq, termasuk kategori yang menyebabkan puasa kita pahalanya tidak diterima Allah. Mendengar jawaban ustadz tersebut jamaah bertanya polos, “puasanya batal ndak pak?”. Lantas ustadz tersebut menjawab “tidak”.
Ada hal menarik dalam kisah jamaah pengajian tersebut, di mana ada perdebatan antara apakah puasa itu semata – mata legal formal fiqhiyah, atau substansial syariah. Jika puasa hanya semata – mata dipandang sebagai persoalan formal fiqh, maka yang mengemuka adalah jawaban bahwa orang yang melakukan ghibah dan namimah puasanya tidak batal. Tetapi jika puasa dipahami sebagai sesuatu yang substansial syariat, maka jawabannya tentu batal, karena ghibah dan namimah telah melanggar makna substansial dari puasa itu sendiri.
Jika persoalan ini durunut lebih lanjut sebenarnya perbedaannya ada pada soal cara pandang atau metodologi dalam memahami Islam. Cara pandang pertama melihat bahwa mengamalkan ajaran Islam itu harus seusai persis dengan teks Alqur’an maupun Hadits. Cara pandang ini kemudian menimbulkan implikasi pada pemaknaan formal dari ajaran Islam itu sendiri. Akibatnya fiqh menjadi ‘kering’ dari spirit ajaran itu sendiri. Jika disederhanakan maka cara pandang model ini akan melahirkan individu muslim yang memiliki kesalehan individual tinggi di satu pihak sedangkan di pihak lain kesalehan sosialnya menjadi berkurang.
Cara pandang kedua melihat bahwa pengamalan ajaran Islam itu harus dilakukan dengan cara memahami semangat atau elan dasar dari ajaran itu sendiri. Jadi bukan formalnya yang dipentingkan tetapi spiritnya, substansi ajarannya. Implikasi dari cara pandang ini biasanya akan melahirkan tipe seorang muslim yang memiliki kesalehan sosial yang tinggi, karena ia mencoba mengelaborasi ajaran dari sisi semangat kemanusiaannya.

Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial
Dalam Alquran banyak dijumpai terminologi kesalehan baik dengan kata shalih, khair, al-birr, hasan, maupun beberapa turunan katanya. Kata shalih secara umum diartikan sebagai kebajikan (rightious), baik (good). Kata shalih biasanya didahului dengan kata iman, misalnya QS. al-Ashr: 2. Ini memberikan makna bahwa shalih merupakan manifestasi dari iman. Iman menjadi tidak bermakna tanpa kesalehan, sebaliknya kesalehan tanpa iman menjadi perbuatan yang tanpa landasan teologis bahkan tidak bisa disebut kesalehan. Perbuatan shalih harus dilandasi iman agar dapat disebut kesalehan.
Istilah khair banyak dipakai dalam Alquran untuk mengungkapkan kebaikan, rahmat, keimanan dan kemanfaatan. Misalnya, kuntum khaira ummatin…. (Q.S. Ali Imron:110) Dalam kata khair terdapat makna kebaikan mahiyah (kebaikan yang berasal dari Tuhan) dan kebaikan insaniyah (kebaikan yang berasal dari manusia). Jadi dari pemahaman kata khair ini terdapat makna bahwa suatu perbuatan baik itu harus sesuai dengan sudut pandang ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan.
Kata al-birr dan turunannya banyak dipakai dalam Alquran untuk mengungkapkan perilaku kebaikan yang berdimensi luas bagi masyarakat. Contoh yang paling populer dari turunan kata ini adalah mabrur. Maka disebut haji mabrur kalau perilaku sosialnya lebih baik setelah melakukan ibadah haji. Jadi makna al-birr lebih bernuansa habl min al-nas, emphasis to justice and social life.
Kata hasan diartikan sebagai kebaikan, kebahagiaan baik yang berdimensi duniawi maupun ukhrowi. Doa yang diajarkan dalam Alquran rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah, menjadi contoh bahwa Alquran mengajarkan kepada manusia untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat sekaligus. Ini mengandung makna secara vertikal harus berbuat baik, secara horizontal pun demikian harus berbuat baik.
Dari beberapa terminologi yang dipakai Alqur’an tersebut di atas, makna substansi dari kesalehan yang diajarkan dalam Islam adalah kesalehan individual maupun sosial, yang muaranya berujung pada kata taqwa. Jadi taqwa dalam konteks ini bermakna akumulasi dari kesalehan ritual yang bersifat vertikal ketuhanan dan kesalehan horisontal kemanusiaan. Antara keduanya tidak bisa dipisahkan, walaupun mungkin dapat digolongkan. Misalnya secara sederhana dapat digolongkan: syahadat, shalat, dapat diidentikkan dengan kesalehan individual-vertikal, sedangkan infaq, shadaqah, menolong sesama, membantu fakir miskin dan kaum dhu’afa dapat disebut sebagai manifestasi dari kesalehan sosial-horisontal.

Menyeimbangkan Kesalehan
Dalam dataran empirik ada beberapa orang yang menganggap penting sekali kesalehan individual dan menganggap tidak penting kesalehan sosial. Ekspresi dari hal ini misalnya, ada beberapa orang yang tekun sekali beribadah ritual tetapi tidak peduli dengan persoalan – persoalan sosial di sekitarnya. Sebaliknya ada orang yang menganggap penting sekali kesalehan sosial, sehingga tidak terlalu memperhatikan kesalehan individualnya.
Menurut hemat kami, setiap orang dapat mengembangkan diri untuk membentuk kesalehan individual tanpa meninggalkan kesalehan sosial atau sebaliknya. Dengan kata lain untuk menjadi muslim yang komprehensif, perlu menyeimbangkan dua bentuk kesalehan sekaligus. Jika hanya salah satu yang diyakini dan menafikan yang lainnya maka menjadi ganjil dan tidak bermakna. Artinya jika hanya saleh individual saja, tanpa memperhatikan kesalehan sosial, maka akan dikategorikan sebagai orang yang mendustai agama (QS. Al-Ma’un:1-7). Sebaliknya jika hanya saleh sosial saja, menganggap tidak penting kesalehan individual, maka kesalehan tersebut akan mengawang, tidak ada ikatan (chenthelan-jawa) dengan identitas keislamannya.
Dilihat dari basis epistemologinya, menarik apa yang dinyatakan oleh Fazlurrahman, bahwa inti ajaran Islam adalah tauhid. Tauhid harus mewujud dalam dua hal sekaligus: pertama, monotheisme dan kedua, keadilan sosial. Artinya bahwa orang yang tauhidnya tinggi secara otomatis mempunyai dua kesadaran sekaligus yakni ketuhanan atau monotheisme dan kemanusiaan atau keadilan sosial. Jadi antara kesalehan individual dan sosial merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya merupakan wujud dan manifestasi dari ketauhidan seseorang.
Pertanyaannya, bagaimana jika antara tuntutan kesalehan individual dan kesalehan sosial “bertabrakan”? Menurut Jalaluddin Rahmat, Islam lebih banyak memperhatikan aspek sosial daripada individual:
• Bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan muamalah, maka dapat diperpendek atau ditangguhkan, contoh sholat jama’ dan qashar.
• Ibadah secara kolektif diganjar lebih besar daripada sendirian, contoh shalat jamaah.
• Ibadah yang tidak dapat dilaksanakan karena tidak mampu atau batal, maka gantinya adalah sedekah, contoh orang tua renta yang tidak mampu berpuasa, maka diganti dengan membayar fidyah.
• Ibadah ritual dapat diganti jika ada faktor sosial khusus yang memerlukannya, contoh: jika akan wudlu, ada anjing yang kehausan, maka airnya harus dikasihkan anjing tersebut, lalu wudlu diganti tayamum.

Salatiga, 1 Mei 2015

Berbakti Kepada Orang Tua Menurut Sunnah Rasul

Berbakti kepada orang tua hukumnya wajib berdasar:
– Hukum Syari’at : antara lain QS. Al-Ahqaaf: 15; QS. Luqmaan: 14; QS. An Nisa’ : 36; QS. Al Isra’: 23 dan hadith-hadith shahih antara lain: HR. Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, HR. Bukhari dari Riwayat Abdullah bin Umar, dll.
– Hukum Kemanusiaan : secara naluriah manusia memiliki tabiat untuk berbakti kepada orang tuanya karena orang tua telah mengasuh, mendidik dan membesarkan anaknya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang, melebihi sayangnya pada diri sendiri.
Rasul mengajarkan, berbakti kepada orang tua dapat dilakukan baik pada saat orang tua masih hidup maupun orang tua sudah meninggal.
Birrul Walidain saat orang tua masih hidup antara lain dengan:
– Tidak menentang dan menyakiti hatinya seperti berkata-kata yang tidak sopan, semisal: uff. (QS.al-Isra’:23)
– Berterima kasih kepada orang tua atas jerih payahnya mendidik dan membesarkan (QS. Luqmaan: 14)
– Mendoakan orang tua (QS. Ibrahim:14)
– Bershilaturrahmi pada keluarga, handai tolan, maupun kolega orang tua (HR. Anas bin Malik)
– Meneladani tradisi-tradisi amal sholih orang tua.
– Bersedekah kepada orang tua, terutama pada saat orang tua sangat membutuhkan, dll.
Birrul Walidain saat orang tua sudah meninggal:
– Mendoakan (terutama) setiap habis shalat maktubah. (HR. Muslim; HR. Turmudzi)
– Membacakan al-Qur’an sampai khatam, setidak-tidaknya (yang terutama) Surat Yasin (HR. Baihaqi, HR. Abu Dawud, Nasai), yang dalam masyarakat menjadi Khataman dan Yasinan.
– Mengeluarkan sedekah kebaikan amal/pahalanya diperuntukkan bagi yang sudah meninggal (HR. Muslim), yang dikenal dengan Slametan.
– Membacakan surat al-Fatihah, awal Surat al-Baqarah, ayat kursi, akhir surat al-Baqarah, bacaan la ilaaha illallah, subhanallah, istighfar, dan shalawat. (HR. Thobroniy, dari riwayat Abdurrahman al-‘Allai), bacaan-bacaan ini oleh ulama disebut Tahlilan. Agar ajeg dan mudah diingat maka dibuat tradisi Telung Dino, Pitung Dino, Matang Puluh, Nyatus, Mendhak Pisan, Pindho, Haul, dll.agar selalu ingat pada orang tua yang telah meninggal sekaligus sarana ingat mati bagi yang masih hidup (Dzikrul Maut)
– Melakukan ibadah hajji dengan niat untuk orang tua yang sudah meninggal (Diriwayatkan Ibnu Umar HR. Muttaqun ‘Alaih)
– Meng-qodlo shalat dan puasa dengan niat untuk orang tua yang sudah meninggal. (Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA)
– Menziarahi makamnya (HR. Muslim), jika mungkin tiap malam jum’ah atau kamis sore (HR. Ibnu ‘Adi dari Abu Bakar RA), jika tidak memungkinkan minimal setahun dua kali yakni menjelang Ramadhan atau nyadran dan akhir ramadhan atau nyekar.
– Melanjutkan tradisi-tradisi amal shalih orang tua.
– Melanjutkan tradisi silaturrahmi dengan keluarga dan sahabat orang tua, dll.

Silabus Matakuliah Studi Keislaman I TA. 2014/2015

Mata Kuliah              : Studi Keislaman  I

Jurusan                      : Tarbiyah

Program Studi           : Pendidikan Agama Islam

Program                     : Strata Satu (S-1)

Bobot                          : 2 sks

Kompetensi Dasar

Siswa dapat memahami secara mendalam tentang ruang lingkup enam rukun iman serta mampu mengembangkan kandungannya sebagai modal pokok dari kajian materi Tauhid/ Keimanan pada semua jenjang madrasah dan atau sekolah, sejak SD/MI samapi dengan SMA/MA.

Indikator Kompetensi

  1. Mampu menjelaskan ruang lingkup Rukun Iman secara umum
  2. Mampu menjelaskan sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna
  3. Mampu menjelaskan sifat Wajib, Mukhal dan Jaiz bagi Allah
  4. Mampu menjelaskan eksistensi Malaikat: asal kejadian, tugas dan hakekat malaikat
  5. Mampu menjelaskan eksistensi Syetan dan Jin
  6. Mampu menjelaskan Hakekat Kitab suci dan Empat Kitab Suci yang wajib diimani
  7. Mampu menjelaskan eksistensi Al Qur’an sebagai Kitab Suci terakhir yang menyempurnakan
  8. Mampu menjelaskan Hakekat Nabi/ Rasul dan 25 Rasul yang wajib diimani
  9. Mampu menjelaskan eksistensi Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir.
  10. Mampu menjelaskan eksistensi Hari Akhir
  11. Mampu menjelaskan eksistensi Taqdir
  12. Mampu menjelaskan Rukun Iman dalam pengembangan Kompetensi Emosional dan Spiritual Guru.

 Topik Inti

  1. Ruang lingkup Rukun Iman secara umum
  2. Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna
  3. Sifat Wajib, Mukhal dan Jaiz bagi Allah
  4. Eksistensi Malaikat: asal kejadian, tugas dan hakekat malaikat
  5. Eksistensi Syetan dan Jin
  6. Hakekat Kitab suci dan Empat Kitab Suci yang wajib diimani
  7. Eksistensi Al Qur’an sebagai Kitab Suci terakhir yang menyempurnakan
  8. Hakekat Nabi/ Rasul dan 25 Rasul yang wajib diimani
  9. Eksistensi Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir.
  10. Eksistensi Hari Akhir
  11. Eksistensi Taqdir
  12. Rukun Iman dalam pengembangan Kompetensi Emosional dan Spiritual Guru.

 

Referensi:

 

Silabus Matakuliah Tafsir Tarbawi TA. 2014/2015

Mata Kuliah                 : Tafsir Tarbawi

Kode                           : –

Jurusan                      : Tarbiyah

Program Studi           : Pendidikan Agama Islam

Program                     : Strata Satu (S-1)

Bobot                         : 2 sks

Kompetensi Dasar

Mahasiswa mampu menghafal, memahami, menuliskan dan menerapkan ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan pendidikan.

 

Indikator Kompetensi

Mahasiswa diharapkan mampu:

1.   Menghafal, Menuliskan dan Menjelaskan tentang ayat-ayat tentang Kewajiban belajar dan mengajar sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat berikut.

QS. Al-Alaq/96: 1-5

QS. Al-Ghasyiyah/ 88 :17-20

QS. Ali Imron/3: 190-191

QS. Al-Taubat/9:122

QS. Al-Ankabut/29:19-20

2    Menghafal, menuliskan dan menjelaskan tentang ayat-ayat tentang Tujuan Pendidikan seperti dalam ayat-ayat berikut.

QS. Ali Imron/3: 138-139

QS. Fath/48: 29

QS. Al-Haj/22:41

QS. Al-Dzariyat/51: 56

QS. Hud/11: 61

3.   Menjelaskan dan menghafal serta menuliskan tentang Subyek Pendidikan berdasar penafsiran ayat.

QS. Al-Rahman/55: 1-4

QS. Al-Najm/53: 5-6

QS. Al-Nahl/16: 43-44

QS. Al-KAhfi/18: 66

4.   Menjelaskan tentang Obyek Pendidikan berdasar pemahaman terhadap tafsir ayat.

QS. Tahrim/66: 6

QS. Al-Syu’ara/26:214

QS. Al-Taubah/9: 122

QS. Al-Nisa/4: 170

5.   Menidentifikasi Metode Pendidikan yang tepat berdasar pada penjelasan.

QS. Al-Maidah/5: 67

QS. Al-Nahl/16: 125

QS. Al-A’raf/7: 176-177

QS. Ibrahim/14: 24-25

6.   Menjelaskan Fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sekaligus dasar penyelenggaraan pendidikan berdasar pada penafsiran ayat.

QS. Al-An’am/6: 91-92

QS. Al-BAqarah/2: 1-5, 97, 185

QS. Ali Imron/3: 7, 164

QS. Al-Isra’/17: 9, 82

7.   Mengidentifikasi Potensi-potensi/keunggulan manusia yang perlu dikembangkan lewat pendidikan sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikut.

QS. Al-Baqarah/2: 30-39

QS. Al-Isro’/17: 70

QS. Al-Ra’d/13: 11

8    Mendeskripsikan Materi pendidikan yang paling diprioritaskan untuk menjadi landasan dalam membangun jiwa anak didik; seperti dituangkan dalam QS. Luqman/31: 12-19

9.   Mengidentifikasi dan Menyimpulkan tentang kelemahan-kelemahan dalam diri manusia berdasar penafsiran;

QS. Al-Ma’arij/70: 19-27

QS. Al-Rum/30: 54

QS. Yasin/36: 77

QS. Al-Ahzab/33: 72

QS. Al-Balad/190: 4-8

QS. Al-Nisa/4: 28-29

10. Mengidentifikasi dan Membedakan antara lingkungan pendidikan yang baik maupun yang buruk berdasar penafsiran ayat.

QS. Ali Imron/3: 110

QS. Al-Isra’/17: 16-17

QS. Hud/11: 100-101

11. Menyimpulkan tentang tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak berdasar penafsiran ayat.

QS. Al-Tahrim/66: 6

QS. Al-Nisa/4: 9

12 Menjabarkan dan mengklasifikasikan tentang Ilmu Pengetahuan berdasar ayat.

QS. Al-Mujadalah/58: 11

QS. Fath/35: 27-28

QS. Al-Nahl/16: 79

QS. Al-Mulk/67: 1-5

 

Topik Inti

1.   Ayat-ayat tentang Kewajiban belajar dan mengajar sebagaimana berikut:

QS. Al-‘Alaq/96: 1-5

QS. Al-Ghasyiyah/ 88 :17-20

QS. Ali Imron/3: 190-191

QS. Al-Taubat/9:122

QS. Al-Ankabut/29:19-20

2    Ayat-ayat tentang Tujuan Pendidikan seperti berikut:

QS. Ali Imron/3: 138-139

QS. Fath/48: 29

QS. Al-Haj/22:41

QS. Al-Dzariyat/51: 56

QS. Hud/11: 61

3.   Ayat-ayat yang berbicara tentang Subyek Pendidikan berdasar penafsiran ayat:

QS. Al-Rahman/55: 1-4

QS. Al-Najm/53: 5-6

QS. Al-Nahl/16: 43-44

QS. Al-KAhfi/18: 66

4.   Ayat-ayat yang berbicara tentang Obyek Pendidikan berdasar pemahaman terhadap tafsir ayat:

QS. Al-Tahrim/66: 6

QS. Al-Syu’ara/26:214

QS. Al-Taubah/9: 122

QS. Al-Nisa/4: 170

5.   Ayat-ayat tentang Metode Pendidikan yang tepat;

QS. Al-Maidah/5: 67

QS. Al-Nahl/16: 125

QS. Al-A’raf/7: 176-177

QS. Ibrahim/14: 24-25

6.   Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sekaligus dasar penyelenggaraan pendidikan:

QS. Al-An’am/6: 91-92

QS. Al-BAqarah/2: 1-5, 97, 185

QS. Ali Imron/3: 7, 164

QS. Al-Isra’/17: 9, 82

7.   Ayat-ayat yang berbicara tentang Potensi-potensi/keunggulan manusia yang perlu dikembangkan lewat pendidikan seperti berikut.

QS. Al-Baqarah/2: 30-39

QS. Al-Isro’/17: 70

QS. Al-Ra’d/13: 11

8    Ayat-ayat tentang Materi pendidikan yang paling diprioritaskan untuk menjadi landasan dalam membangun jiwa anak didik; seperti QS. Luqman/31: 12-19

9.   Ayat-ayat yag menjelaskan tentang kelemahan-kelemahan dalam diri manusia seperti ayat;

QS. Al-Ma’arij/70: 19-27

QS. Al-Rum/30: 54

QS. Yasin/36: 77

QS. Al-Ahzab/33: 72

QS. Al-Balad/190: 4-8

QS. Al-Nisa/4: 28-29

10. Ayat-ayat tentang lingkungan pendidikan yang baik maupun yang buruk  seperti ayat;

QS. Ali Imron/3: 110

QS. Al-Isra’/17: 16-17

QS. Hud/11: 100-101

11.Ayat-ayat yag berbicara tentang tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak seperti ayat;

QS. Al-Tahrim/66: 6

QS. Al-Nisa/4: 9

12 Tentang Ilmu Pengetahuan seperti dalam ayat;

QS. Al-Mujadalah/58: 11

QS. Fath/35: 27-28

QS. Al-Nahl/16: 79

QS. Al-Mulk/67: 1-5

 

Referensi

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir
  2. Syaikh al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi
  3. Syaikh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Syaikh Imam Jalaluddin al-Suyuti, Tafsir Jalalain
  4. M. Quraisy Syihab, Tafsir al-Misbah

Silabus Matakuliah Pengembangan Kurikulum PAI TA. 2014/2015

Mata Kuliah              : Pengembangan Kurikulum ( Curriculum

                                   Development)

Jurusan                      : Tarbiyah

Program Studi           : Semua Program Studi

Program                     : Strata 1 (S-1)

Bobot                          : 2 sks

Kompetensi Dasar

Mahasiswa mampu memahami konsep pengembangan kurikulum (termasuk kurikulum Pendidikan Islam), serta memiliki kecakapan akademis yang berguna sebagai bekal mengajar dan mengembangkan kurikulum PAI di madrasah/sekolah.

Indikator Kompetensi

Mahasiswa dapat:

  1. Memahami hakekat kurikulum dalam pendidikan
  2. Memahami komponen-komponen kurikulum
  3. Memahami konsepsi-konsepsi dalam pengembangan kurikulum
  4. Memahami landasan dalam pengembangan kurikulum
  5. Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
  6. Memahami dan berlatih membuat model-model pengembangan kurikulum
  7. Memahami dimensi manusia dalam pengembangan kurikulum
  8. Memahami jenis-jenis organisasi kurikulum
  9. Memahami hakekat evaluasi kurikulum serta aplikasinya dalam PAI
  10. Memahami sejarah perkembangan kurikulum PAI di Indonesia
  11. Memahami arah perkembangan kurikulum di Indonesia
  12. Memahami konsep dasar kurikulum 2013
  13. Memahami peluang dan tantangan kurikulum 2013
  14. Mengetahui isi kurikulum pendidikan Islam yang digagas oleh para pemikir muslim

Topik Inti

  1. Hakikat kurikulum dalam pendidikan: interpretasi kurikulum, kurikulum dan pembelajaran, kurikulum sebagai disiplin ilmu.
  2. Komponen-komponen kurikulum
  3. Konsepsi-konsepsi dalam pengembangan kurikulum
  4. Landasan dalam pengembangan kurikulum
  5. Prinsip-prinsip/aksioma dalam pengembangan kurikulum
  6. Model-model pengembangan kurikulum
  7. Dimensi manusia dalam pengembangan kurikulum
  8. Jenis-jenis organisasi kurikulum
  9. Hakekat evaluasi kurikulum serta aplikasinya dalam PAI
  10. Sejarah perkembangan kurikulum PAI di Indonesia
  11. Arah Perkembangan Kurikulum di Indonesia
  12. Konsep dasar kurikulum 2013
  13. Analisis peluang dan tantangan kurikulum 2013
  14. Isi kurikulum pendidikan Islam yang digagas oleh para pemikir muslim

Referensi

  1. John D. Mc. Neil, Curriculum : A Comprehensive Introduction, Scott, Foresman/Little, Brown Higher Education, Illionis, 1990
  2. S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jemmars, Bandung, 1986
  3. Peter F. Oliva, Developing the Curriculum, Little, Brown and Company, Boston, 1982
  4. J. Galen Saylor dan William M. Alexander, Curriculum Planning for Better Teaching and Learning, Holt, Rinehart, and Winston, 1974
  5. Hilda Taba, Curriculum Development : Theory and Practice, Harcourt, Brace & World, Inc., New York, 1962
  6. Miftahuddin, Menggagas Kurikulum Pendidikan Islam Humanis, STAIN Salatiga Press, 2003
  7. Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Bina Aksara, 1996
  8. M. Athiyah al-Abrasy, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha, Isa al-Babiy al-Halabiy, Kairo, 1969
  9. Syeh Muhammad al-Naquib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, Hodder and Stoughton, King Abdul Aziz University Press, Chicago, 1982
  10. Abu Hamid Mumahammad bin Muhammad al-Ghazaliy, Ihya’ Ulum al-Din, Juz I, Dar al-Fikr, Mesir, 1991
  11. Abdurrahman an-Nahlawiy, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyaah wa Asalibuha, terj. H. Noer Ali, Diponegoro Press, Bandung, 1989
  12. Ibn Khaldun, The Muqaddimah, terj. Franz Rosenthal, Princeton University Press, Princeton, 1981

Salatiga,   1 September 2014

Dosen Pengampu,

 

Drs. H. Miftahuddin, M.Ag

Satu Gedung Lagi Diresmikan

Ketua STAIN Salatiga Dr. Imam Sutomo, M.Ag didampingi Waket II Drs. Miftahuddin, M.Ag baru-baru ini (08/01/2014) meresmikan penggunaan gedung baru. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pelaksana Pekerjaan, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas, dan para dosen serta karyawan STAIN Salatiga. Gedung baru STAIN Salatiga tersebut terletak di Kampus 2 Kembangarum. Gedung tersebut merupakan pengadaan sarana prasarana tahun anggaran 2013. Sebelum acara utama peresmian gedung dimulai dilakukan tahtimul qur’an dan doa, dipimpin oleh KH. Makmun al-Hafidz.

Menurut rencana gedung tersebut akan digunakan untuk memenuhi ruangan perkuliahan yang dirasakan masih kurang seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa. Sebagaimana diketahui jumlah mahasiswa STAIN Salatiga dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yang signifikan.

Puasa Membentuk Karakter

Bulan Ramadhan telah hadir kembali tahun ini (1433 H). Setidaknya ada empat tipe muslim menyambut hadirnya Ramadhan setiap tahun. Pertama, suka cita dan gembira menyambut hadirnya Ramadhan, karena ia merasakan kenikmatan beribadah di dalamnya. Kedua, mereka yang suka cita dan gembira menyambut hadirnya bulan Ramadhan, karena diuntungkan secara materi. Ketiga, merasa berat dan terbebani atas hadirnya Ramadhan. Keempat, kalangan yang biasa-biasa saja dalam menapaki Ramadhan.
Jika seseorang berusia 40 tahun, maka setidak-tidaknya telah melaksanakan puasa 27 bulan. Asumsinya adalah semenjak aqil baligh ia sudah puasa penuh. Pertanyaannya adalah: (1) apakah puasa yang sudah dilakukan sekian lama itu telah berdampak bagi pembentukan pribadi yang baik, atau belum; dan (2) pada tataran kolektif, apakah dampak berpuasa bagi bangsa ini sudah tampak nyata?
Pertanyaan pertama membutuhkan introspeksi atau muhasabah atas individu masing-masing. Jika seseorang berpuasa sementara pada saat yang sama ia juga melakukan perbuatan-perbuatan: :(1) kidzb atau berdusta; (2) ghibah wa al-namimah atau menggunjing dan mengadu domba; (3) nadlarun bi al-shahwah atau melihat dengan hawa nafsu; dan (4) yumna la bihaq atau bersumpah palsu, maka puasanya menjadi hampa makna.
Pertanyaan kedua membutuhkan muhasabah nasional. Jika bangsa ini terus berpuasa, namun perilaku kolektifnya masih belum menunjukkan karakter mulia, maka dapat dinyatakan puasanya masih belum sampai pada nilai yang sesungguhnya, yakni taqwa.
Pada tataran realitas, kita masih menjumpai moralitas individu maupun kolektif sebagai bangsa belum sesuai dengan harapan. Di sana sini masih dijumpai fenomena menurunnya karakter individu maupun bangsa. Menurut Megawangi (2009:21), indikatornya antara lain: (a) meningkatnya kekerasan di masyarakat; (b) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; (c) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan; (d) meningkatnya perilaku merusak diri; (e) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (f) menurunnya etos kerja; (g) semakin rendahnya rasa saling menghormati satu sama lain; (h) rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara; (i) membudayanya ketidakjujuran; dan (j) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.

Membangun Karakter
Membangun karakter individu dan masyarakat merupakan sebuah keharusan, karena hal itu merupakan bagian dari tugas kekhalifahan setiap muslim. Setiap muslim diperintahkan oleh agama untuk membangun karakter dengan cara ber-akhlaq al-karimah.
Tugas mulia Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan karakter mulia dilandasi rahmah atau kasih sayang. Beliau menyontohkan sendiri ajaran akhlak mulianya, dengan empat pilar: (1) shidiq; (2) amanah; (3) tabligh; dan (4) fathonah.
Karakter shidiq (benar) dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan perilaku yang sama antara perkataan dan tindakan. Sifat amanah (jujur) menjadi landasan utama gerak beliau dalam laku keseharian, sampai-sampai beliau mendapat julukan al-amin oleh suku Quraisy. Tabligh (akuntabel) merupakan karakter Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas kerasulannya. Sedangkan fathonah (cerdas) merupakan cerminan sikap kreatif dalam menjalankan tugas sebagai utusan Allah SWT.
Jika ditarik ke konsep kekinian, maka empat pilar karakter Nabi Muhammad SAW tersebut sangatlah relevan. Dalam literatur moderen karakter positif biasanya dicirikan dengan hal-hal berikut: (1) menghargai nilai normatif; (2) menumbuhkan rasa percaya diri; (3) kemandirian (4) keteguhan; dan (5) kreativitas.(Foester, 2012:2)

Ajaran Puasa
Ajaran puasa diturunkan kepada umat Nabi Muhamad SAW dan umat – umat sebelumnya supaya mereka mencapai derajat taqwa (Q.S. al-Baqarah: 183). Jika tujuan akhir dari perintah puasa adalah untuk mencapai ketaqwaan, maka tentu yang dimaksud bukan sekedar puasa untuk menahan lapar dan dahaga saja, namun juga puasa dalam arti mengendalikan hawa nafsu. Dengan kata lain, puasa yang dimaksudkan adalah mengendalikan diri dari sikap negatif, lalu masuk ke dalam sikap positif, seperti: jujur, disiplin, patuh pada aturan, etos kerja tinggi, dan solidaritas pada sesama.
1. Kejujuran
Orang puasa akan jujur pada diri sendiri bahwa ia sedang berpuasa. Tidak berani melanggar makan, minum, maupun hal lain yang membatalkan sungguhpun tidak ketahuan orang lain.
2. Disiplin
Puasa mengajari orang untuk berdisiplin saat mengakhiri sahur, memulai berbuka, serta hal-hal yang dilarang.
3. Kepatuhan
Setiap orang yang berpuasa pada hakekatnya patuh pada aturan Allah SWT. Jika ia tidak patuh tentulah ia memilih tidak berpuasa. Di dalamnya ada rasa takut melanggar aturan.
4. Etos Kerja
Puasa yang dilakukan sungguh-sungguh akan mendorong seseorang untuk menyadari bahwa kerja itu adalah ibadah. Kesadaran bahwa kerja itu merupakan ibadah akan memunculkan sikap bertanggungjawab atas setiap tindakannya dalam pekerjaan. Ia akan selalu berusaha meningkatkan profesionalismenya dalam bekerja. Ia takut kalau tidak maksimal dalam bekerja. Ia sadar bahwa ia tidak hanya sedang berurusan dengan atasannya atau pelanggannya semata, namun sedang berurusan (juga) dengan Allah SWT.
5. Solidaritas
Alur pikir sederhananya dapat dinyatakan bahwa jika seseorang disuruh menahan lapar dan dahaga sehari penuh, diharapkan akan tumbuh kesadaran dalam dirinya betapa orang yang kesulitan ekonomi, yang tiap hari lapar dan dahaga karena tidak memiliki kesempatan untuk makan yang semestinya, harus diperhatikan dan disantuni. Jika kesadaran ini muncul diharapkan bagi orang yang berpuasa tersebut akan bisa berbagi dengan orang lain terutama kaum dhuafa.

Itulah sebahagian mutiara-mutiara pendidikan karakter yang diajarkan dalam ibadah puasa. Selamat berpuasa, semoga menjadi pribadi yang berkarakter mulia, amin.

Salatiga, Ramadhan 1433 H
(Artikel ini pernah dimuat di Jawa Pos Radar Semarang Tahun 2012)

Silabus Matakuliah Metodologi Studi Islam Tahun 2013/2014

Mata Kuliah              : Metodologi Studi Islam

Jurusan                      : Semua Jurusan

Program Studi           : Semua Program Studi

Program                     : Strata 1 (S-1)

Bobot                          : 2 sks

Kompetensi Dasar

Mahasiswa mampu memahami berbagai pendekatan dan metode dalam men-studi Islam, baik Islam sebagai agama, budaya, maupun ilmu serta mampu melakukan analisis atas fenomena keagamaan dengan berbagai pendekatan tersebut.

 

Indikator Kompetensi

Mahasiswa diharapkan dapat:

1.      Menjelaskan karakteristik studi Islam berdasarkan latar belakang dan tujuan studi.

2.      Menjelaskan prinsip-prinsip dasar epistemologi Islam.

3.      Menjelaskan arti pentingnya agama bagi manusia.

4.      Menjelaskan sumber ajaran Islam

5.      Menjelaskan karakteristik ajaran Islam.

6.      Menjelaskan posisi Islam sebagai agama

7.      Menjelaskan posisi Islam sebagai budaya

8.      Menjelaskan posisi Islam sebagai ilmu pengetahuan

9.      Menjelaskan aneka pendekatan dalam studi Islam

10.  Menjelaskan berbagai metode dalam studi Islam

11.  Menjelaskan model penelitian agama dan keagamaan

12.  Menjelaskan keterhubungan Islam dan globalisasi

13.  Menjelaskan isu-isu Islam kontemporer.

14.  Menjelaskan wacana studi Islam kawasan (Area Studies)

 Topik Inti

1.      Karakteristik Studi Islam: (a) arti dan ruang lingkup studi Islam; (b) latar belakang dan tujuan studi Islam; (c) beberapa pola studi Islam; (d) aspek-aspek sasaran studi Islam; (e) pertumbuhan studi Islam.

2.      Beberapa Prinsip Dasar Epistemologi Islam: (a) pengertian epistemologi dan Islam; (b) sumber pengetahuan (wahyu, akal dan intuisi); (c) kriteria kebenaran dalam epistemologi Islam; (d) dan peranan dan fungsi pengetahuan Islam

3.      Arti Penting Agama Bagi Manusia:(a)  sejarah pemikiran agama; (b) fungsi agama dalam kehidupan; (c) kebutuhan manusia terhadap agama; dan (d) doktrin kepercayaan agama.

4.      Sumber Ajaran Islam: (a) al-Qur’an sebagai sumber ajaran; (b) al-Sunnah sebagai sumber ajaran; (c) kedudukan al-Sunnah terhadap al-Qur’an; dan (d) Ijtihad sebagai sumber hukum.

5.      Karakteristik Islam: (a) makna universal Islam; (b)sifat dasar ajaran Islam; (c) Islam normatif dan historis; dan (d) karakteristik Islam dalam berbagai bidang: aqidah, ibadah, sosial, pendidikan, dan ilmu pengetahuan.

6.      Islam Sebagai Agama Wahyu: (a) pengertian wahyu; (b) epistemologi wahyu; (c) wahyu kauniyyah dan qur’aniyyah; dan (d) posisi akal terhadap wahyu.

7.      Islam Sebagai Produk Budaya: (a) kebudayaan: pengertian, unsur, dan fungsi; (b) kelahiran Islam dan budaya Arab pra-Islam; (c) Islam sebagai realitas sosial dan budaya; dan (d) pendekatan studi kebudayaan.

8.      Islam Sebagai Pengetahuan Ilmiah atau Ilmu: (a) arti dan perbedaan antara pengetahuan , ilmu, dan filsafat; (b) metode ilmiah dan struktur ilmu; (c) klasifikasi ilmu; dan (d) pendekatan keilmuan.

9.      Aneka Pendekatan dalam Studi Agama: (a) pendekatan teologis; (b) pendekatan sosiologis; (c) pendekatan filosofis; (d) pendekatan antropologis; (e) pendekatan fenomenologis; (f) pendekatan psikologis; dan (g) pendekatan feminis.

10.  Metode-metode Studi Islam: (a) metode studi tafsir; (b) metode studi hadith; (c) metode studi fiqh; (d) metode studi kalam; dan (e) metode studi tasawuf

11.  Penelitian Agama dan Keagamaan: (a) arti penelitian agama; (b) penelitian agama dan keagamaan; (c) konstuksi teori penelitian agama; (d) model-model penelitian agama.

12.  Islam dan Globalisasi: (a) respons muslim terhadap globalisasi; (b) modernisme dan reformisme Islam; (c) fundamentalisme dan radikalisme Islam; (d) tradisionalisme Islam; dan (e) post-tradisionalisme dan liberalisme Islam.

13.  Wacana Islam Kontemporer: (a) Islam dan HAM; (b) Islam dan Pluralisme; (c) Islam dan gender; dan (d) Islam dan demokrasi.

14.  Studi Islam Kawasan: (a) arti dan asal-usul studi kawasan; (b) orientalisme dan oksidentalisme; (c) Islam di Timur dan Barat; dan (d) problem dan prospek studi kawasan.

 

Referensi

1.      Abuddin Nata, 1998, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Logos.

2.      Ahmad Norma Permata, 2000,  Metodologi Studi Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

3.      Akbar S. Ahmed, 1997, Living Islam, Tamasya Budaya Menyusuri Samarkand Hingga Sternoway, terj. Pangestutiningsih, Bandung: Mizan.

4.      Alwi Shihab, 1999, Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Bandung: Mizan.

5.      A. Syafii Maarif, 1997, Islam Kekuatan Doktrin dan Kegamangan Umat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

6.      Atang Abd Hakim & Jaih Mubarok, 2009, Metodologi Studi Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya

7.      Charles Kurzman, edit., 2001, Wacana Islam Liberal Pemikiran Kontemporer Tentang Isu-isu Global, Jakarta: Paramadina.

8.      Fazlur Rahman, 2000, Gelombang Perubahan dalam Islam, Studi Tentang Fundamentalisme Islam, terj. Aam Fahmi, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

9.      G.E. Von Grunebaum, 1964, Modern Islam The Search for Cultural Identity, New York: Random House Inc.

10.  Harun Nasution, 1991, Teologi Islam, Jakarta: UI Press.

11.  ____________, 1995, Islam Rasional, Bandung: Mizan.

12.  ____________, 1973, Pembaruan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang.

13.  ____________, 1992, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang.

14.  ____________, 1985, Islam Ditinjau Dari Beberapa Aspek, Jakarta: Bulan Bintang.

15.  Jalaluddin Rumi, 2004, Masnawi, terj. Haris Ibn Sholihin, Yogyakara: Belukar.

16.  Maulana Muhammad Ali, 1980, Islamologi, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve.

17.  M. Amin Abdullah, Islamic Studies, Pustaka Pekajar: Yogyakarta

18.  _______________, 1996, Studi Agama: Normatifitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

19.  _______________, 1995, Falsafah Kalam, Pustaka pelajar: Yogyakarta.

20.  M. Atho’ Mudzhar, 1999,  Pendekatan Studi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

21.  Muhammad Abed al-Jabiri, 2003, Formasi Nalar Arab, terj. Imam Khairi, Yogyakarta: Ircisod.

22.  Mukti Ali, 1991, Metode Memahami Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang.

23.  Nurcholis Madjid, 1997, Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan Indonesia, Jakarta: Paramadina.

24.  _______________, 1992, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.

25.  Peter Connolly (ed.), 2009, Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta: LKiS, cet II,

26.  Richard C. Martin, (ed.), 1985, Approaches to Islam in Religious Studies, Tucsan the University of Arizona Press.

27.  Seyyed Hossein Nasr, 1993, Spiritualitas dan Seni Islam, terj. Sutejo, Bandung: Mizan.

28.  Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), 1991, Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana

Peta Situs Islam Indonesia

PETA SITUS ISLAM INDONESIA

Pengantar

Data ini didownload pada 2012, tentu sudah berubah banyak dan lebih sulit dikenali perkembangannya. Namun setidaknya untuk memetakan pola pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia sebagai sebuah kajian akademis, tetap penting dan cukup representatif. Dengan membaca ragam pemikiran keislaman di peta situs Islam ini, secara metodologis, pemikiran (dan gerakan) keislaman muslim di Indonesia setidaknya dapat dikategorikan kedalam tiga varian, yakni fundamentalist moslems di jalur kanan, liberalist moslems di jalur kiri, dan moderate moslems di jalur tengah;

Data ini diunduh dari www.myquran.org. Web myquran sendiri menurut pendapat saya dapat dikategorikan sebagai bagian dari web fundamentalist moslems;

Diskusi lebih lanjut (dan tentu lebih detail) mengenai peta pemikiran dan gerakan Islam Indonesia, dilakukan pada seri perkuliahan kelas Metodologi Studi Islam (pertemuan ke-4, 5, 6).

AHMADIYYAH

         http://www.ahmadiyya.or.id/page/

AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH

         http://www.alirsyad.or.id/
http://www.alirsyad.org/

AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN

         http://www.al-ikhwan.net
http://www.usahamulia.net

DAARUT TAUHIID (DT)

         http://www.cybermq.com/
http://www.dpu-online.com
http://www.manajemenqolbu.com
http://www.dtjakarta.or.id/

HIDAYATULLAH

         http://www.hidayatullah.com

HIZBUT TAHRIR INDONESIA (HTI)

         http://www.al-islam.or.id
http://www.gemapembebasan.or.id
http://www.hizbut-tahrir.or.id
http://www.syariahpublications.com/
http://www.suara-islam.com/
http://www.khilafah1924.org/
http://www.muslimuda.org/

JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL)

         http://www.islamlib.com/

         http://www.desantara.org/

         http://www.islamemansipatoris.com/

         http://www.lkis.or.id/

         http://www.rahima.or.id/

         http://www.rifka-annisa.or.id/

         http://www.syirah.com

LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA (LDII)

         http://www.ldii.or.id

MAJELIS MUJAHIDIN INDONESIA (MMI)

         http://www.baasyircenter.com/

PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

         http://www.persis.or.id

MUHAMMADIYAH

         http://www.diktilitbang-muhammadiyah.or.id
http://www.imm.or.id/
http://www.irmmania.org/
http://www.muhammadiyah.or.id/
http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_weblinks&catid=15&Itemid=23
http://www.muhammadiyah-tabligh.or.id
http://www.suara-muhammadiyah.or.id

NAHDHATUL ULAMA (NU)

         http://www.al-hikam.or.id/
http://www.citraalam.org
http://www.dutamasyarakat.com/
http://www.fatayat.or.id/
http://www.gp-ansor.org/
http://www.gusdur.net/
http://www.gusmus.net
http://www.kommit.org/
http://www.lakpesdam.or.id/
http://www.maarif-nu.or.id/
http://www.muslimat-nu.or.id/
http://www.nu.or.id/
http://www.nucim.org/
http://www.numesir.org
http://www.nupakistan.or.id/
http://www.nusaudi.or.id/
http://www.nusyria.net/
http://www.pesantrenvirtual.com
http://www.sidogiri.com/
http://www.syarikat.org
http://www.wahidinstitute.org/

SALAFI JIHADI
Kelompok yg lebih terlihat condong pada kekerasan, terkait dengan fitnah yang mencoba mengkait2kan Islam dan bbrp tokoh2 Islam dengan isu “t3r0r15m3″ atau kekerasan.

         http://www.al-jamaah.net/
http://www.almuhajirun.com/
http://www.sabiluna.net/
http://www.alqoidun.net

SALAFY 1
Salafy-nya mantan murid Ust Ja’far Umar Thalib. Salah satu tokohnya adalah Ust Umar As-Sewed. Dan salah satu tokoh lainnnya adalah ust Jafar Sholih di Jakarta. Ust Ja’far sendiri keluar dari firqah ini dan membentuk firqah sendiri.

         http://www.salafy.or.id
http://www.ahlussunnah-jakarta.org
http://www.an-nashihah.com
http://www.assalafy.org
http://www.darussalaf.or.id
http://www.asysyariah.com
http://www.sunnah.or.id
http://www.merekaadalahteroris.com
http://thullabul-ilmiy.or.id
http://www.al-ilmu.com/

SALAFY 2
Murid2nya Ust Yazid Jawas, Ust Zaenal Abidin, Ust Hakim Abdat, Abu Nida, dll. Salafynya Minhajus Sunnah (sebuah Yayasan di Bogor)

         http://www.muslim.or.id
http://forsitek.brawijaya.ac.id
http://www.almanhaj.or.id
http://www.assunnah.or.id
http://www.fatwa-ulama.com
http://www.hakekat.com
http://www.jilbab.or.id
http://www.muslimah.or.id
http://www.perpustakaan-islam.com
http://www.hang106.or.id
http://salafi.or.id
http://www.salafindo.com
http://www.salafyoon.net
http://www.soal-jawab.com
http://www.vbaitullah.or.id
http://www.pustakaimamsyafii.com/
http://www.at-tibyan.com/
http://www.at-taqwa.com/
http://www.al-aisar.com/
http://www.ibnukatsir.com/
http://www.majalah-nikah.com
http://wheeqo.web.id
http://www.sahidian.web.id
http://www.assunnah.web.id
http://www.ahlussunnah.web.id
http://www.islam-download.net
http://smd.antibidah.net/
http://www.yamnm.org

SALAFY 3
Murid2nya ust Ja’far Umar Thalib. Salafy 1 dan 3, dulu merupakan satu kesatuan, pernah dijuluki “Salafy Yamani”, dulu membentuk Laskar Jihad utk Ambon. Tapi mereka akhirnya pecah menjadi dua begitu.

         http://www.alghuroba.org/

SALAFY 4
Salafy Yayasan Al-Sofwah. Salafy yang lebih moderat ketimbang Salafy 1 dan Salafy 2. Menurut bbrp orang, awalnya ustadz pada Salafy 2, tergabung dalam Al-Sofwah ini. Namun mrk membentuk sendiri yayasan di bogor, karena menganggap Al Sofwah ini terlalu lunak thd Harokah (Harokah = Ikhwan? HT? – wallahu’alam)

         http://www.alsofwah.or.id

SALAFY 5
Salafy lainnya, masih ada bbrp

         http://www.aldakwah.org
http://www.wahdah.or.id

SUFI

         http://www.sufinews.com/

SYI’AH

         http://indonesian.irib.ir
http://quran.al-shia.com/id/
http://www.12-imam.com
http://www.fatimah.org
http://www.icc-jakarta.com
http://www.imamalmahdi.com/html/ind/
http://www.islamalternatif.com
http://www.lankarani.com/and/index.html?rnd=1069424426
http://www.muthahhari.or.id/

(diolah dari sumber: http://www.myquran.org)

Silabus Matakuliah Telaah Kurikulum PAI Semester Genap TA. 2013/2014

SILABUS MATA KULIAH SEMESTER GENAP

TAHUN AKADEMIK 2013/2014

 

Mata Kuliah                : Telaah Kurikulum PAI

Jurusan                      : Tarbiyah

Program Studi           : PAI

Program                     : Strata 1 (S-1)

Bobot                          : 2 sks

Kompetensi Dasar

Mahasiswa mampu memahami konsep dan implementasi kurikulum PAI dan dapat  mengembangkannya di sekolah/madrasah  berbasis kurikulum 2013.

Indikator Kompetensi

Mahasiswa dapat:

1.      Mengetahui hakikat kurikulum dalam pendidikan

2.      Mengetahui konsep dasar pengembangan kurikulum

3.      Mengetahui kebijakan umum implementasi kurikulum 2013

4.      Mengetahuikarakteristik kurikulum 2013

5.      Mengetahui struktur kurikulum 2013 tingkat SD/MI

6.      Mengetahuistruktur kurikulum 2013 tingkat SMP/MTs

7.      Mengetahuistruktur kurikulum 2013 tingkat SMA/MA/SMK

8.      Menelaah matapelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SD/MI

9.      Menelaah matapelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMP/MTs

10.  Menelaah matapelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMA/MA/SMK

11.  Mengembangkan perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SD/MI

12.  Mengembangkan perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMP/MTs

13.  Mengembangkan perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMA/MA/SMK

14.  Mengembangkan perangkat evaluasi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SD/MI.

15.  Mengembangkan perangkat evaluasi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMP/MTs

16.  Mengembangkan perangkat evaluasi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMA/MA/SMK.

Topik Inti

1.      Hakikat kurikulum dalam pendidikan

2.      Konsep dasar pengembangan kurikulum

3.      Kebijakan umum implementasi kurikulum 2013

4.      Karakteristik kurikulum 2013

5.      Struktur kurikulum 2013 tingkat SD/MI

6.      Struktur kurikulum 2013 tingkat SMP/MTs

7.       Struktur kurikulum 2013 tingkat SMA/MA/SMK.

8.      Telaah matapelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SD/MI

9.      Telaah matapelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMP/MTs

10.  Telaah matapelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMA/MA/SMK

11.  Perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SD/MI

12.  Perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMP/MTs

13.  Perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMA/MA/SMK

14.  Perangkat evaluasi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SD/MI.

15.  Perangkat evaluasi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMP/MTs

16.  Perangkat evaluasi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMA/MA/SMK.

Referensi

  1. John D. Mc. Neil, Curriculum : A Comprehensive Introduction, Scott, Foresman/Little, Brown Higher Education, Illionis, 1990
  2. S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jemmars, Bandung, 1986
  3. Peter F. Oliva, Developing the Curriculum, Little, Brown and Company, Boston, 1982
  4. J. Galen Saylor dan William M. Alexander, Curriculum Planning for Better Teaching and Learning, Holt, Rinehart, and Winston, 1974
  5. Hilda Taba, Curriculum Development : Theory and Practice, Harcourt, Brace & World, Inc., New York, 1962
  6. Miftahuddin, Menggagas Kurikulum Pendidikan Islam Humanis, STAIN Salatiga Press, 2003
  7. Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Bina Aksara, 1996
  8. M. Athiyah al-Abrasy, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha, Isa al-Babiy al-Halabiy, Kairo, 1969
  9. Syeh Muhammad al-Naquib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, Hodder and Stoughton, King Abdul Aziz University Press, Chicago, 1982
  10. Abu Hamid Mumahammad bin Muhammad al-Ghazaliy, Ihya’ Ulum al-Din, Juz I, Dar al-Fikr, Mesir, 1991
  11. Abdurrahman an-Nahlawiy, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyaah wa Asalibuha, terj. H. Noer Ali, Diponegoro Press, Bandung, 1989
  12. Ibn Khaldun, The Muqaddimah, terj. Franz Rosenthal, Princeton University Press, Princeton, 1981
  13. Panitia Sertifikasi Guru LPTK IAIN Walisongo Semarang, Modul PLPG, 2013

Salatiga,   1 Maret  2014

Dosen Pengampu,